About Me

Foto saya
I play at everybody's mind. I live in everybody's heart.
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 April 2012

SECANGKIR MEMORI DI BIJI KOPI

            Malam itu, tentara hujan kembali turun menggempur bumi. Petir bergemuruh di atas langit membuatku membayangkan keadaan ketika Perang Dunia II masih berlangsung. Tapi, ah, sudahlah, itu tak penting. Ada hal lain yang lebih menyita perhatianku, adalah suatu aroma yang kukenal dengan baik.

Kopi.

Diriku seakan tersihir ketika aroma itu merasuki hidung. Sensasi yang sama seperti ketika Profesor Lockhart meneriakkan mantera Obliviate untuk menghilangkan dan memanipulasi memori Harry dan Ron di jalan menuju Kamar Rahasia tetapi malah terkena manteranya sendiri. Kemudian Harry… Ah, lagi-lagi aku menceritakan hal yang tidak penting, kalian semua pasti sudah tahu cerita itu, bukan?

Maksudku di sini, aroma kopi mampu menimbulkan sensasi yang dapat memanipulasi memori. Atau mungkin lebih tepat jika aku bilang sensasi yang dapat mendatangkan kembali memori yang telah lama terkubur di dalamnya alam bawah sadar.

Memori akan kebahagiaan,

Memori akan kesedihan,

Dalam secangkir kopi…

***

          Sore itu, aku sedang berkencan di kedai kopi tua favoritku di daerah Dago Atas. Sebuah café bergaya naturalis dengan meja dan bangku kayu serta pemandangan Bandung di balik kusen dengan ukiran khas Jepara berhiaskan ranting pohon tua di belakangnya. Kencan manis bersama laptop dan setumpuk kertas data skripsi yang harus kuolah.

Hahaha! Betapa menyedihkan…

Sementara teman seperjuanganku telah melanjutkan hidupnya dengan menikah, melanjutkan pendidikan ke jenjang Master bahkan Doktor, meniti karier di perusahaan besar, atau mulai membuka bisnis baru, aku masih saja bergelut dengan tugas akhir. Yah, beginilah nasib mahasiswa salah jurusan.

Motivasi rendah, mata kuliahnya sulit dimengerti, dosen terasa galak dan kaku.

Dan seterusnya, dan seterusnya…

Meskipun bisnis kecilku berjalan lancar dan terus berkembang, tetapi orang tuaku terus mendesak agar aku cepat lulus dan bekerja di perusahaan Ayahku. Sementara aku punya impian lain. Dan kakiku terus melangkah menuju impian itu hingga menjadi kenyataan.

“Selamat siang.. Pesanan yang biasa, Mas?” Rani bertanya padaku.

Ia adalah seorang pramusaji di tempat ini. Parasnya cukup manis. Matanya tajam dan bercahaya, pipinya bulat seperti bakpau. Tapi, namanya juga manusia, selalu mencari kesempurnaan dalam segala aspek kehidupannya. Jika saja perawakannya tidak seperti kucing hamil dikombinasikan dengan kuda nil yang sedang berkubang, dengan lipatan tubuh yang jumlahnya lebih dari manusia normal. Belum lagi rambutnya yang tajam dan berantakan seperti giginya, mungkin dia sudah aku ajak kencan.

“Mas? Mas Drian? Mau pesan apa?”

“Ah, iya. Pesan yang biasa aja, Ran. One Dreamcatcher for this Mr. Lonely.” Lamunanku  terpecah oleh pertanyaannya.

Dreamcatcher. Minuman kesukaanku di tempat ini. Bahkan sebelum minuman itu datang, aku dapat merasakan sensasinya di mulutku. Racikan biji kopi robusta dicampur dengan sirup hazelnut dengan gambar daun di permukaannya. Entah mengapa minuman ini selalu berhasil mengaktifkan hormon endorfin dan memunculkan mood positifku.

“Oke, tunggu sebentar ya. Saya ambilkan dulu pesanannya.” Ucap Rani sembari meninggalkanku. Dapat kudengar ia berteriak kepada Barista yang tak jauh dari meja tempatku berada.

“ONE DREAMCATCHER, PLEASE! GAK PAKE LAMA!” Teriak Rani.

“Buat jadi dua, ya, Mbak,” sambar seorang wanita kepada Rani, “Saya pesan Dreamcatcher juga, tapi dibungkus.”

“Oke, Mbak. Tunggu sebentar ya,” tanggap Rani dilanjutkan dengan teriakan kedua kepada Barista.

Wanita itu kemudian menatapku. Lalu melangkah mendekatiku. Aku langsung berlagak cuek kembali menatap layar laptopku yang masih kosong.

“Hai, boleh ikut duduk di sini?” Tanyanya. “Aku sedang menunggu pesananku. Atau mungkin lebih tepat jika aku bilang pesanan kita.” Ia berdiri di sebelah kursiku, menungguku mempersilakannya duduk.

Naluri lelaki dalam diriku segera mengirimkan sinyal ke otak, memerintahkan mataku untuk mengamatinya dengan cepat, seperti anti-virus di komputer yang melakukan scanning terhadap flashdrive yang baru dicolokkan.

Tubuh mungil, tapi montok. Lekukannya terbentuk jelas di balik setelan skinny jeans berwarna biru tua dan kaos putih kebesaran yang memamerkan bahunya. Ditambah gelang-gelang kayu di pergelangan tangan kanannya, jam tangan casio emas di tangan kirinya, dan beberapa cincin unik berbentuk burung hantu dan storm trooper dari toko Widely Project di jarinya yang mungil. Tak lupa kalung dreamcatcher tergantung di lehernya. Kini aku tahu kenapa dia memesan minuman yang sama denganku.

Parasnya pun sangat manis. Deretan gigi yang teratur dan bibir yang tipis membuat senyumannya terlihat sangat indah. Rambutnya yang pendek menggelitik bahu dan lehernya ketika angin bertiup. Bola mata yang sangat bulat dan jernih melempar tatapan bersahabat dari balik bulu matanya yang lentik. Cantik. Hatiku berbicara.

“Si... Silakan, Mbak, Dreamcatcher ...” Aku tergagap. Entah mengapa. Mungkin karena ini kali pertama ada wanita cantik menghampiriku sejak sebulan lamanya aku bermeditasi di tempat ini setiap hari. 

“Hahaha.. Namaku bukan Dreamcatcher . Aku Bunna Aisha. Kamu boleh panggil aku Bunna.”

“Ha.. Halo, Bunna. Aku Drian.” Lidahku masih gemetaran. Untung saja tanganku masih bisa bergerak normal ketika dia menyodorkan tangannya untuk berkenalan.

“Namamu, Bunna. Apakah ini seperti yang aku pikirkan?” Tanyaku.

“Kalau kamu berpikir tentang asal muasal Kopi, ya, kamu benar.” Jawabnya. “Kau tahu, kopi itu pertama kali ditanam di Kerajaan Kaffa di Ethiopia?” Lanjutnya.

“Ya, Aku pernah dengar kalau biji kopi pertama ditanam di sana dan disebut bunn atau bunna. Kemudian kopi mulai tersebar di Eropa pada masa Kekaisaran Turki Ottoman yang hendak menyerang Wina pada tahun 1529. Hanya saja mereka mengalami kekalahan, dan orang-orang Wina menemukan perbekalan kopi mereka dan mulai menyebarkannya,” Kataku.

“Wow! Aku terkejut kamu tahu sebanyak itu. Kebanyakan orang hanya mengenal kopi itu dari Italia.” Ucap Bunna terkesima.

“Hehehe.. Aku.. Cukup banyak membaca..” Aku tersipu malu.

“Ayahku dulu seorang Barista. Nama yang diberikannya kepadaku ini didorong oleh rasa cintanya terhadap kopi. Dan sepertinya bukan hanya nama yang diwariskannya, tetapi juga rasa cintanya terhadap kopi. Aku sangat suka kopi.” Bunna menjelaskan.

Aku tersenyum mendengarnya. Menyimpan laptopku di atas meja dalam keadaan tertutup. Percakapan dengannya jauh lebih menarik ketimbang menyelesaikan penelitianku. Kami pun melanjutkan perbincangan.

“DUA DREAMCATCHER SIAP DIHIDANGKAN!” Rani mengejutkanku dari samping.

“WILL YOU PLEASE STOP YELLING, HIPPO GIRL!!”

Ingin rasanya aku berteriak seperti itu. Jika bukan karena Bunna di depanku dan aroma kopi pesananku yang merasuki hidungku, aku sudah melakukannya.

Alih-alih aku menjawab dengan dingin, “Terima kasih, Ran. Simpan saja di atas meja.”

Rani meletakkan pesananku dan Bunna di atas meja. Lalu bergegas pergi sambil mencibir. Agaknya dia sedikit cemburu melihat keceriaanku bersama Bunna.

“Pesananku sudah datang, Dri. Aku pergi dulu ya..” Perkataan Bunna mengejutkanku untuk kedua kalinya setelah raungan Rani di sebelahku.

“Kamu sudah mau pergi lagi?”

“Aku ada janji bimbingan dengan dosen sore ini..” Jawabnya.

“Can’t you just finish your coffee first and have another chit-chat with me?” Aku sedikit bersikeras memintanya untuk tetap tinggal.

Bunna mengambil selembar tissue, lalu menulis sesuatu di atasnya. “Maaf ya.. Aku sudah terlambat.. Tapi kamu boleh menghubungiku nanti..” Ia memberikan tissue yang bertuliskan nomor teleponnya kepadaku.

“See you later, Mr. Dreamcatcher . It was fun talking with you..” Bunna tersenyum seraya berjalan ke luar. Aku hanya bisa membalas senyumannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Seakan mengerti apa yang kurasakan, lagu “Falling in Love at The Coffee Shop” dari Landon Pigg mengalun di udara.

“I think that possibly, maybe I’m falling for you
Yes there’s a chance that I’ve fallen quite hard over you.
I’ve seen the paths that your eyes wander down
I want to come too…

I think that possibly, maybe I’m falling for you
Yes there’s a chance that I’ve fallen quite hard over you.
I’ve seen the waters that make your eyes shine
now I’m shining too…”

***

        Hari ini sedikit berbeda dari biasanya. Aku tidak pergi ke kedai kopi langgananku seperti biasanya. Aku memberanikan diri untuk menelepon Bunna sehari setelah pertemuanku dengannya. Bukan percakapan yang panjang. Aku hanya mengajaknya pergi kencan.

         Jika kamu bertanya-tanya tentang bagaimana kelanjutan skripsiku, hilangkan itu dari pikiran kamu. Tentu saja aku meninggalkan laptop dan tumpukan berkas demi pergi dengan Bunna. Hahaha!

Berbeda dengan kencan pertama yang biasanya orang lain lakukan. Pergi menonton di bioskop lalu makan malam? Bah. Membosankan. Kami melewatkan seharian untuk pergi ke museum-museum di Bandung dan mencari jajanan kuno di sekolahan. Kue Ape. Kue Cubit setengah matang. Bandros. Arumanis Jerami atau yang biasa disebut Rambut Nenek. Sedikit nostalgia dengan masa kecil dan diakhiri dengan kunjungan ke rumah Bunna.

“Masuk, Dri.” Ajak Bunna.

“Kamu.. Tinggal sendirian di rumah sebesar ini?” Tanyaku sedikit canggung.

           Bagaimana tidak. Rumahnya adalah sebuah bangunan tua dengan sentuhan arsitektur Belanda yang sudah sedikit dimodifikasi. Paling tidak ada sekitar 8 kamar utama dalam rumah ini. Yang sudah pasti tidak ada yang menempatinya, pikirku. Hanya ada aku dan dia di dalam rumah itu. Aku harus berusaha keras untuk menolak bisikan setan di telinga kiriku. Untung saja malaikat di sebelah kananku lebih kuat.

“Yup. Sebetulnya dulu rumah ini seperti kebun binatang, selalu berisik. Tapi sejak Ayah dan Ibuku meninggal karena kecelakaan mobil 7 tahun lalu, rumah ini seakan kehilangan pemiliknya. Kehilangan jiwanya.” Cerita Bunna. Terdengar nada sedih ketika dia bercerita.

Aku terdiam. Bingung untuk memberikan reaksi yang tepat.

“Kemudian, satu persatu anggota keluarga ini mulai melanjutkan hidup setiap tahunnya. 3 kakakku yang paling besar tinggal di luar negeri. 3 lainnya tinggal di luar kota bersama keluarganya masing-masing. “Sekarang, tinggal aku si bungsu, sendirian di rumah ini.” Lanjutnya.

Dapat kulihat sekilas matanya berlinang air mata. Mungkin ini penyebab bola matanya begitu cerah dan bercahaya. Air mata begitu seringnya membasahi wanita kesepian ini. Aku kembali terdiam. Semakin bingung untuk menanggapi. Aku hanya tersenyum.

Seakan menangkap sinyal kebingunganku, Bunna menarik tanganku. “Hei! Let me show you something!”

“Apa?” Tanyaku.

“Udah, ikut dulu aja, yuk!” Paksa Bunna. Kami pun melangkah ke dalam dapur.

“Wow! Ini semua barang asli? Gila.” Pekikku.

“Hahaha. Aku sudah mengira reaksimu akan seperti itu.” Canda Bunna.

      Deretan coffee-maker tua bertengger di atas rak. Mulai dari mesin espresso tahun 1933 penemuan Dr. Ernest Illy hingga Jasper Morrisson’s Coffee-Maker tahun 2004 tersimpan rapi. Dan yang lebih mengejutkan, semuanya masih berfungsi dengan baik.

“Aku buatkan kamu kopi, ya?” Tanya Bunna.

“Boleh. Jangan pake racun ya. Awas kalau rasanya nggak enak. Hehehe..” Candaku.

        Bunna tertawa. Lalu dia memperlihatkan kemahirannya membuat kopi. Mulai dari menciumi wangi biji kopi robusta, memasukkannya ke dalam mesin, hingga meraciknya sirup dan  sesuatu yang sepertinya menjadi ramuan rahasianya.

“One Nice Dream is ready!” Teriak Bunna bersemangat.

Nice Dream? Kok namanya mirip pesananku di kedai kopi kita?” Protesku.

“Bawel ah. Nama boleh mirip, tapi rasanya jauh beda. Soalnya ini kopi buatanku.” Ucap Bunna sembari meletakkan dua cangkir kopi di atas meja.

        Benar saja. Dari aromanya saja kopi itu terasa nikmat. Asap putih yang mengepul dari balik permukaannya menggelitik bulu hidungku. Sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Seolah-olah aku diajak terbang ke angkasa ketika aku memejamkan mata dan menghirup aromanya.

“Kopi ini… Kopi terbaik yang pernah kuminum!” Teriakku. “Bunna! Kamu harus membuka kedai kopi sendiri! Kopi ini pasti menjadi minuman kesukaan semua orang! The Dreamcatcher - one sip for one dream!” Lanjutku bersemangat.

“Hehehe.. Makasih, ya.. Tapi aku tak berminat menjadi Barista. Mungkin suatu saat aku akan menjual resep kopi ini.  Aku lebih suka menikmati kopi buatan orang lain atau membuatkan kopi untuk seseorang yang spesial di kehidupanku.” Ucap Bunna sambil menyentuh tanganku dan tersenyum manja.

         Mata kami saling bertemu, menatap dalam seakan sedang saling menelusuri jiwa. Jemari kami bersilangan. Jarak antara aku dan dia semakin hilang. Kali ini bukan aroma kopi yang merasuk ke hidungku, melainkan wangi tubuh seorang wanita cantik di hadapanku. Kami berpelukan. Dapat kurasakan hembusan napasnya di wajahku dan darah mengalir deras hingga terdengar detak jantungku sendiri. Tak lama bibir kami bersentuhan. Kebahagiaan yang kurasakan berjuta kali lipat lebih besar dari kebahagiaan menghirup aroma kopi kesukaanku. Kami berciuman.

***

“BLAR!!!”

Suara petir kembali memecah keheningan. Kaca jendela mengalunkan nada tak teratur suara ketukan air hujan. Terdengar pula derap langkah ringan menaiki anak tangga di luar kamar. Tak lama sayup suara wanita cantik memanggil dari balik pintu.

“Dri, masih beresin kerjaan, ya?”

“Hei. Kamu belum tidur? Aku sebentar lagi beres kok.” Jawabku.

“Aku barusan bikin kopi kesukaan kamu. Robusta dengan sirup hazelnut dan ramuan rahasia. Nice Dream for my Mr. Nice Dream!”

“Wah.. Makasiiiih.. Gak salah deh aku nikahin kamu, Nad..”

“Aku tidur duluan, ya. Titip anak-anak, ya, Dri.” Ucapnya.

“Sip. Nanti aku nyusul. Tanggung nih dikit lagi beres. Have a nice dream, Nadira.” Balasku.

“Nice Dream-nya kan udah kamu minum. Aku mau sweet dream aja deh. Hehe.” Candanya.

“Hahaha... Dasar… Garing luuu! Sini aku cium dulu.” Nadira pun meninggalkan ruang kerjaku setelah aku mencium keningnya.

Nadira. Wanita yang sekarang menjadi istriku. Bukan Rani. Bukan pula Bunna. 

Rindu. Aku rindu Bunna. 

Hanya satu hal yang dapat kulakukan untuk menebus rasa rinduku, dengan menikmati resep kopi buatannya.

Selagi menyeruput kopiku, iTunes player di komputerku memutar lagu Nice Dream dari Radiohead.

“They love me like I was a brother
They protect me, listen to me
They dug me my very own garden
Gave me sunshine, made me happy

Nice dream, nice dream, nice dream..

I call up my friend, the good angel
But she's out with her ansaphone
She says she would love to come help but
The sea would electrocute us all

Nice dream, nice dream, nice dream..

If you think that you're strong enough
If you think you belong enough
If you think that you're strong enough
If you think you belong enough

Nice dream, nice dream, nice dream..”

***

Sabtu, 02 Oktober 2010

AKSI HEROIK

“Kebakaraaan! Kebakaraaan!” Udin berteriak membangunkan para tetangganya. Tak lama warga kampung Cidaun berkumpul di lokasi kebakaran.

“Cepat panggil pemadam kebakaran! Cepat sebelum apinya merambat!” Teriak Pak RW. Wajahnya tak dapat menyembunyikan kepanikan. Beberapa warga terlihat merogoh sakunya untuk mengambil ponsel di sakunya. Sedangkan yang lain menjadi panik karena api semakin besar.

“Oke! Semuanya tolong tenang. Bagi yang merasa pria tolong berkumpul di sini membentuk barisan, sementara wanita tolong kumpulkan wadah yang bisa menampung air, sebanyak mungkin! Kita harus bahu membahu memadamkan api ini!” Para warga seketika terdiam memperhatikanku.

Para wanita lalu mulai berhamburan ke rumahnya masing-masing mengikuti instruksiku. Sementara aku memerintahkan para pria agar membentuk beberapa barisan.

“Udin! Maman! Kalian berdua cepat ambil selang air, lalu hubungkan ke kran air terdekat! Cepat!” Kataku.

Mereka berdua lalu berlari mengikuti perintahku. Para wanita mulai kembali bergabung dengan kerumunan. Mereka lalu aku perintahkan membentuk barisan di belakang para pria. Beberapa barisan yang cukup panjang yang berujung di kamar mandi rumah seorang warga terdekat.

“Api ini tak akan bisa dipadamkan jika kita tidak bahu membahu. Ayo kita padamkan api ini!” Aku berteriak.

Para warga mulai mengestafetkan ember, gayung, baskom, dan semua wadah yang sudah terisi oleh air lalu melemparkan air ke arah si jago merah. Api terlihat mengecil, tapi hanya sebentar saja dia kembali berkobar. Udin dan Maman kembali membawa beberapa selang air. Tanpa harus diperintah mereka menghubungkan selang ke kran air terdekat.

“Ayo cepat! Kita butuh lebih banyak air!” Aku berteriak. Aliran wadah air berputar lebih cepat. Api terlihat semakin besar. Terdengar suara kayu berjatuhan dari dalam rumah yang kebakaran.

“Kak, tolong aku kak. Mimi masih ada di dalam rumah. Dia tertidur di dalam kandang. Aku lupa mengeluarkannya. Tolong, kak.” Adik Uci tiba-tiba menghampiriku sambil menangis. Kucing kesayangannya masih ada di dalam rumah.

“Udin! Ambil alih komando! Aku harus menyelamatkan mimi!”

“Tapi, Bang. Apinya semakin besar. Sudah tak mungkin bisa diselamatkan.” Udin berusaha mencegahku.

“Ah, sudah. Aku harus mencobanya!” Ujarku. Aku lalu membasahi badanku dengan air, menutup hidungku dengan sehelai saputangan yang sudah dibasahi. “Dik Uci, sebentar ya, kakak akan menyelamatkan Mimi. Kamu tunggu di sini ya sama papa dan mama.”

“Iya, kak. Tolong ya, kak.” Adik Uci terisak sambil memelukku. Aku pun berlari menerobos kobaran api. Para warga berteriak histeris melihat aksi heroik-ku. Udin mulai membuka mulut mengambil alih komando.

“Mimiii.. Mimiii.. Sini mpusss..” Aku berteriak di tengah kobaran api. Tak ada jawaban. Hiruk pikuk di luar tergantikan dengan suara nyala api. Aku terus melangkah. Lidah api berusaha menjilatku. Untung saja aku sudah membasahi badanku.

“Mimiii.. Mimiii.. Kamu di manaaa? Sini mpusss..” Kali ini aku mendengar suara kucing di kamar belakang. Semangatku terbakar sepanas api di sekelilingku. Aku menerobos ke ruangan itu.

“Meong..” Mimi mengeong setelah melihatku. Aku lalu menghampirinya.

“Sini mpus.. Tenang ya, Mimi. Om akan mengeluarkanmu dari sini.” Ujarku sambil membuka kandang itu.

Aku membuka jaketku, lalu membalutkannya pada tubuh Mimi. Kami lalu berlari ke luar dari rumah itu. Tetapi keadaan semakin parah. Kayu-kayu mulai berjatuhan. Api terasa membakar tubuhku. Asap mulai merasuki hidungku. Aku hampir hilang kesadaran. Berjalan, dan terus berjalan. Sampai akhirnya aku mendengar suara bising selain kobaran api. Aku sudah semakin dekat dari pintu keluar. Tiba-tiba segelondongan kayu terjatuh dari lantai dua. Kayu itu berhasil menimpa tubuhku. Hampir kehilangan kesadaran, aku masih dapat mendengar teriakan para wanita melihat kejadian itu. Tak lama, aku pun kehilangan kesadaran.

***

“Adi.. Adi.. Ayo bangun..” Suara halus seorang wanita menusuk telingaku. Aku masih setengah sadar.

“Adi.. Ayo bangun.. Nanti kamu terlambat sekolah..” Kali ini suara itu disertai goncangan ke arah tubuhku. Aku mulai tersadar.

“Sekolah? Aku kan mati tertimpa kayu waktu mau nyelamatin kucing.” Pikirku.

“Adi! Apa-apaan kamu! Udah kelas 3 SMA masih ngompol! Malu-maluin aja kamu ini! Ayo cepat bangun sebelum ibu pukul pakai penggebuk kasur!” Ibu berteriak kepadaku. Aku tersentak kaget setelah dia menggebuk kasur untuk membangunkanku.

Kasurku terasa begitu dingin. Celanaku pun basah. Ternyata aku memang benar-benar mengompol. Aku pun beranjak dari kasurku menuju kamar mandi.

“Sial. Belaga jadi pemadam kebakaran. Pake sok-sokan nyelamatin kucing segala. Udah gitu mati pula. Eh, ternyata gue ngompol.” Aku berbicara kepada cermin.

“Mimpi yang aneh.” Ujarku.

Kamis, 30 September 2010

CERITA DARI KERAJAAN ROKOK

Zaman dahulu kala ada sebuah negeri bernama CIGARILOS disekitar wilayah COMMODORE dekat dengan MARCOPOLO, hiduplah seorang raja bernama MINAK JINGGO. Raja ini hanya mempunyai seorang putri.

Di kala SURYA tenggelam, Putri diculik segerombolan Koboi MARLBORO. Mereka meminta tebusan sebesar US$ 555 (Five-Five-Five) ribu. Ditunggu di GUDANG GARAM negeri KANSAS. Jika permintaan tidak dipenuhi maka putri raja akan ditusuk dengan DJARUM SUPER sampai BENTOEL - BENTOEL.

Raja marah, lalu dipanggilnya Pendekar SAMPOERNA yang lemah lembut bernama DJI SAM SOE. Sebelum berangkat menyelamatkan Sang Putri, Pendekar pamit pada gurunya dan berkata "WISMILAK" dan Sang Guru menjawab "GET LUCKY", dengan penuh harapan Sang Raja pun berkata "LOSTA MASTA".

Dengan penuh semangat Sang Pendekar bertempur melawan Koboi-Koboi tersebut. Untuk melawan Koboi-Koboi itu, Sang Pendekar menggunakan senjata BH (BENSON & HEDGES) dipadu dengan tenaga MENTHOL CRYSTAL yang dimilikinya.

Akhirnya Sang Pendekar dapat mengalahkan Koboi-Koboi tersebut. Raja sangat gembira dan sebagai ucapan terima kasih Raja kepada Sang Pendekar maka diadakan pesta besar-besaran di Hotel LA LIGHT. Turut hadir Presiden KENNEDY.

Mengingat Sang Pendekar adalah seorang yang sangat lembut, Sang Raja memberinya gelar STAR MILD (Bintang Kelembutan). Namun pada saat makan malam Raja melihat Sang Pendekar selalu melamun dan murung, lalu Raja mendekatinya dan berkata "ini BUKAN BASA BASI loh, pesta ini aku adakan khusus untukmu, mengapa kamu kelihatan murung ?"

Sambil berlalu Sang Pendekar pun menjawab "PRIA PUNYA SELERA". Perkataan Sang Pendekar didengar oleh Sang Putri kemudian Sang Putri pun mendekati Sang Pendekar serta berkata "ARDATH" (Aku Rela Ditiduri Asalkan Tidak Hamil). Sang Pendekar tersenyum. Lalu Sang Putri kembali berkata "YANG PENTING RASANYA BUNG".

Waktu berlalu, singkat cerita akhirnya mereka menikah dan melahirkan seorang anak yang Garang dan Lantang, oleh karena itu diberi nama GALAN.

Tamat

Source : Unknown

Senin, 27 September 2010

HARGA SEBUAH KEJUJURAN

Aku sudah sampai di basement gedung itu. Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Tak ada seorang pun di sana. Hanya ada suara nafasku, gema langkahku, suara hewan pengerat yang sedang berkeliaran mencari makanan, dan beberapa mobil yang masih terparkir. Mungkin itu milik beberapa karyawan yang sedang lembur.

Lampu neon mengedipkan cahayanya sesekali kepadaku, seakan enggan memberikan penerangan. Cahaya remang membuatku setengah buta. Berkali-kali kakiku menginjak genangan air di lantai. Sampai akhirnya aku tiba di depan mobil itu. Sebuah kijang berwarna hitam dengan nomor polisi B 3471 KYT. Sebagian besar kacanya dicat oleh phylox berwarna hitam juga, membuat pandanganku terhalang menembus ke dalam mobil itu. Kecuali kaca depan, aku dapat melihat seorang pria menggunakan tutup kepala berwarna hitam membuat dirinya terlihat seperti ninja.

Sesuai perjanjian, aku harus melakukan panggilan setibanya aku di depan mobil itu. Jariku dengan sigap menekan tombol redial di ponselku. Tak lama nada sambung terhenti, pertanda panggilan sudah tersambung.

“Aku sudah sampai. Apa yang harus kulakukan?” Ujarku.

“Masuk ke dalam mobil.” Jawab seorang pria di seberang ponsel.

Pria seperti ninja turun dari bangku depan lalu membukakan pintu belakang. Dia menatapku. Sorot matanya memerintahkan aku untuk masuk ke dalam.

Hampir tak ada penerangan sama sekali di dalam mobil itu. Pria seperti ninja itu menutup pintu, lalu terdengar bunyi klik. “Ya, Aku sudah di dalam mobil.” Kataku.

“Bagus. Kami sudah menyiapkan welcome drink untukmu. Minumlah. Kau akan tertidur setelahnya. Driver akan membangunkanmu jika sudah sampai tujuan berikutnya. Kita sudahi pembicaraan ini.”

Pembicaraan pun terputus. Pandanganku yang kabur tertuju pada sebuah gelas yang tersimpan di nampan di atas kursi.

“Minum.” Kata pria seperti ninja itu.

Aku pun menurutinya, cairan di dalam gelas itu habis kutenggak. Mobil pun mulai melaju. Tak lama mataku terasa sangat lelah. Tubuhku pun lemas. Sampai akhirnya kesadaranku pun hilang


***
Siang hari beberapa jam sebelumnya..

“Selamat siang, Pak.” Sapa seorang wanita cantik dari balik mejanya.

“Siang, Andien. Panas banget ya hari ini? Gak kebayang kalo di neraka panasnya kayak gimana. Hehehe.” Jawabku sembari berjalan menuju ruanganku. Andien membalas dengan senyuman.

Siang itu memang sangat terik. Matahari begitu bersemangat kala itu. Air conditioner di ruang kerjaku tak berguna dibuatnya. Keringatku mengalir dengan deras menuruni wajahku. Beberapa kali aku harus membersihkan berkas-berkas pekerjaan yang kejatuhan keringatku.

“Andien, bisa tolong ke ruanganku sebentar?” Ujarku melalui telepon.

“Baik, Pak.” Jawab Andien. Beberapa saat kemudian Andien memasuki ruangan. “Permisi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya.

“Ini, Ndien. Amplop dari Bapak Agung tolong kembalikan ya. Keras kepala juga orang itu.” Kataku sembari menyodorkan amplop tebal seukuran uang kertas.

Namaku Rudi Sudiro. Aku adalah seorang hakim yang dikenal dengan kejujuran dan ketegasan dalam menangani kasus apa pun. Saat ini, kasus yang sedang kutangani adalah kasus penggelapan uang senilai ratusan miliar di sebuah bank ternama. Sudah sekian ribu kasus yang kutangani secara adil. Dan, sudah sekian ribu juga uang sogokan yang kukembalikan. Prinsip utamaku dalam melayani orang lain adalah kejujuran. Oleh karena itu aku selalu menolak uang sogokan yang diberikan kepadaku. Namun, adakalanya beberapa di antara mereka yang keras kepala, berusaha untuk terus menyuapku.

“Baik, Pak. Biar saya kembalikan ke Bapak Agung. Ada yang lain, Pak?” Celetuk Andien.

“Oh, iya. Tolong sekalian panggilkan tukang reparasi AC ya. Sepertinya AC di ruangan saya rusak. Gak kerasa dingin sama sekali.” Pintaku.

“Iya, Pak Rudi. Kayaknya di semua ruangan lagi pada rusak deh AC-nya. Gak tahu gara-gara memang panas yang keterlaluan.” Keluh Andien. “Ya, sudah. Nanti saya panggilkan tukang reparasi AC terus saya kontak Bapak Agung. Ada lagi, Pak?” Lanjutnya.

“Nope. Itu saja. Terima kasih ya, Andien.” Ucapku sembari melemparkan senyum. Andien pun pamit keluar ruangan. Aku kembali membaca berkas-berkas di mejaku. Tiba-tiba mejaku bergetar. Ponselku berdering, sebuah nomor tak dikenal tertera di layar ponsel.

“Halo?” Ujarku. Hening. Tak ada jawaban. Hanya ada hembusan napas berat di seberang sana. Panggilan pun terputus. Aku kembali membaca berkas-berkas kasus di mejaku. Tak lama, ponselku kembali berdering. Nomor barusan kembali meneleponku.

“Ya? Halo? Ini siapa?” Tanyaku. Kali ini terdengar suara seorang pria. Agak aneh, sepertinya pria itu memakai alat pengubah suara.

“Bapak Rudi?” Katanya.

“Ya, betul. Ini siapa.” Ujarku.

“Kau tak perlu tahu siapa identitasku. Kami telah menyandera istri dan putrimu. Jika ingin nyawa mereka selamat, ikuti perintahku.” Kata pria itu. Terdengar suara erangan di belakangnya.

“Menyandera? Apa maksud Anda? Sebaiknya anda tidak bergurau, kawan.” Kataku. Lelaki itu diam, tidak menghiraukan perkataanku.

Suara erangan di belakangnya berubah menjadi suara wanita dan anak perempuan yang sedang meminta tolong. Suara yang kukenal.

“Paaa, tolong kami, Paaa.. Kami disandera oleh para penjahat, mereka membawa senapan. Tolong kami, Paaa..” Istriku berteriak. Aku dapat mendengar putriku menangis di sampingnya.

“A.. Andrea.. Ka.. Kamu baik-baik saja?” Ujarku.

Pria dengan alat pengubah suara kembali berbicara sebelum istriku sempat menjawab pertanyaanku.

“Kini Anda tahu betapa seriusnya kami, Pak Rudi. Sebaiknya Anda tidak bermain-main dengan kami. Kamilah yang bermain-main dengan Anda.” Nadanya menunjukkan ancaman dan keseriusan.

“Apa yang kau inginkan dariku?” Aku berusaha tetap tenang. Pria itu menjawab.

“Malam ini, tepat pukul sembilan, datanglah ke gedung apartemen yang terbakar bulan lalu. Sebuah mobil kijang hitam akan
menunggu Anda di basement gedung itu. Jika sudah sampai telepon kembali ke nomor ini.”

Aku diam mendengarkan, mencatat perkataannya di sebuah kertas.

“Kita sudahi pembicaraan ini. Ingat, jangan libatkan polisi atau siapa pun jika Anda ingin mereka selamat.” Lanjutnya. Panggilan pun terputus.

Aku bergegas keluar dari kantorku. Perasaanku campur aduk, geram dan terancam. Andien menyapaku tetapi tak kuhiraukan. Aku mencoba menelepon ke rumah tetapi tidak ada yang mengangkat. Aku menancap laju mobilku. Pikiranku tak karuan. Banyak lampu lalu lintas yang kulanggar, aku hanya ingin cepat sampai di rumah, untuk memastikan kebenaran.

Setibanya di rumah aku mendapati mobil istriku terparkir di halaman. Aku berlari ke dalam rumah, tetapi tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam. Semua ruangan sudah kuperiksa, hasilnya tetap saja nihil. Sempat terbersit pikiran untuk menelepon pihak berwajib, tetapi aku tak mau mengambil resiko kehilangan nyawa istri dan putriku. Aku memutuskan untuk mengistirahatkan hati dan pikiranku, menantikan datangnya malam. Merasa kelelahan yang maksimal, mataku pun terpejam.


***

Aku terbangun di sebuah ruangan kecil berukuran 2x3 meter persegi. Dengan hanya bermodalkan bohlam lampu 5 watt untuk menerangi dan sedikit cahaya yang datang dari arah jeruji kecil di pintu. Sebuah ranjang, kursi dan pispot tergerai di lantai. Tanganku terikat, kepalaku pening, pandanganku masih kabur, dan tubuhku lemas. Sepertinya efek minuman di mobil barusan yang membuatku seperti ini. Tiba-tiba pintu terbuka. Terlihat sosok pria bertubuh besar memasuki ruangan.

“Bangun! Bos ingin bertemu denganmu.” Teriaknya sembari menendangi punggungku.

“Aku sudah bangun. Tak bisakah kau sedikit lebih sopan?” Kataku, berusaha terlihat tenang dan berani, hasilnya aku mendapat tendangan tambahan di bagian perut.

Aku mencoba bangkit, alhasil aku hanya bisa menyandarkan tubuhku di tembok, masih terlalu lemah untuk berdiri. Pandanganku tertuju pada pria bertubuh besar itu. Dia memakai penutup muka, membuat dirinya juga menjadi seperti ninja, sama seperti supir yang mengantarkanku ke sini. Agaknya semua telah direncanakan dengan matang. Entah ada berapa orang yang terlibat, tetapi pembagian tugas mereka sangat spesifik. Aku menyimpulkan pria ini adalah seorang algojo dari awaknya yang demikian besar

“Mana istri dan anakku?” Aku bertanya padanya.

“Mereka masih hidup. Dan akan terus seperti itu jika kau terus menuruti kami. Sekarang, bangun!” Jawabnya.

“Aku sudah bangun, tapi tubuhku terlalu lemah untuk berdiri.” Kataku.

“Cih. Ya sudahlah.” Ujarnya. Dia melangkah ke luar ruangan, tak lama, dia kembali bersama seorang pria. Tubuhnya yang ramping dibalut oleh setelan jas berwarna abu. Aku tak dapat mengenali wajah tampannya. Hidung mancung, matanya yang sipit memancarkan sinar ancaman padaku. Dia melangkah mendekatiku.

“So, this is mister Rudi. Hakim hebat dari Jakarta.” Ujarnya, sembari menyalakan cerutu di mulutnya. “Kau tahu kenapa kau ada di sini?” Lanjutnya.

Aku memalingkan wajahku, diam tak bersuara. Tangan besar sang algojo mendarat di wajahku. Pria berjas melambaikan tangannya, seakan memerintahkan si algojo menghentikan aksinya.

“Kau terlalu jujur, kawan. Itu bukan sesuatu yang baik di dunia yang kejam ini.” Katanya.

“Apa maksudmu?” Ujarku.

“Kau tahu betul apa maksudku. Kami sudah berkali-kali mengirimkan sejumlah uang padamu.”

“Ah, aku mengerti. Sepertinya kau suruhan Agung. Jadi semua ini terjadi karena kasus yang sedang kutangani. Aku tahu dia bersalah, jangan anggap kalian bisa meloloskan diri setelah apa yang kalian perbuat.” Kataku.

Kombinasi pukulan dan tendangan si algojo mendarat di wajah dan perutku. Kali ini pria berjas itu mendiamkan. Mulutku mulai mengeluarkan darah.

“Sebaiknya kau jaga mulutmu, kawan. Kau tahu resiko yang sedang kau hadapi bukan?” Ujar pria berjas itu. Dia menepuk bahu si algojo. Memerintahkannya untuk membuka pintu dengan lebar. Algojo itu mendekat ke arah pintu, lalu membukanya.

Di luar ruangan aku dapat melihat dua sosok orang yang kukenali baik. orang yang kusayangi. Terduduk lemas dan terikat di atas kursi. Seorang kawanannya yang lain menodongkan pistol di kepala mereka.

“Andrea! Indri!” Aku berteriak. Hasilnya nihil, mereka sepertinya tak sadarkan diri. Aku bangkit lalu mencoba berlari ke arah mereka. Tohokan si algojo kembali bersarang di perutku, aku jatuh tersungkur.

“Kau tahu apa yang akan terjadi pada mereka jika kau tidak menurut, kawan.” Ujar pria berjas.

Mereka lalu ke luar ruangan. Terdengar bunyi klik setelah pintu itu tertutup. Aku berdiri, menggedor pintu dan berusaha melihat dari balik jeruji kecilnya. Kudapati istri dan anakku masih di depan ruangan.

“Pikirkan ini baik-baik, kawan. Kariermu, atau mereka.” Kata pria berjas dari balik pintu. Sementara si algojo dan seorang kawannya berdiri di sisi istri dan anakku, menodongkan pistol di kepala mereka.


***
Suatu hari di sebuah rumah sakit jiwa..

Aku yang baru keluar dari kamar mandi ternyata ditinggalkan rombonganku. Untung saja mereka belum jauh. Aku melangkah menyusul rombonganku di luar gedung.

“Tolooong! Tolong selamatkan istri dan anakku!” Teriak seorang pria dari dalam sebuah kamar kepadaku.

Aku tersentak kaget. Aku diam memperhatikan dari depan pintu. Pria itu lalu kembali berteriak sambil menggedor pintu dan mengeluarkan tangannya dari jeruji kecil, berusaha menggapaiku. Aku yang merasa ketakutan langsung lari meninggalkannya.

“Suster, barusan ada yang berteriak dari dalam kamar, meminta istri dan anaknya diselamatkan.” Kataku pada seorang perawat yang sedang jaga di depan pintu gedung itu.

“Oh, itu. Pasien itu bernama Pak Rudi. Dia menderita Schizophrenia tipe Paranoid. Dia dulu seorang hakim. Beberapa tahun lalu dia menangani sebuah kasus sampai akhirnya kehilangan semuanya.” Suster menjelaskan kepadaku.

“Oh, begitu. Kasihan ya.” Kataku.

“Baiklah, anak-anak. Kunjungan kita hari ini sepertinya cukup sampai di sini. Sekarang kita kembali ke aula besar untuk mendiskusikan hasil kunjungan kita hari ini.” Seorang dosen pembimbing berteriak kepada rombongan.

“Oke, suster. Terima kasih. Saya harus kembali bersama rombongan. Permisi.”

Aku pun berlari meninggalkan suster dan gedung itu, kembali berbaur dengan rombongan mahasiswa.

Jumat, 24 September 2010

BURUDUL KELEK!

Di setiap lingkungan pertemanan, pasti ada satu kata yang hanya dimengerti oleh anggota kelompok itu. Di kelompok saya, salah satu kata yang cukup terkenal adalah “Burudul Kelek”, “Burudul” itu artinya banyak dan terus menerus, dan “Kelek” itu artinya ketiak, tetapi di sini konteksnya lebih ke arah bulu ketiaknya. Jadi, “Burudul Kelek” itu mengacu pada sesuatu yang banyak dan ada terus seperti bulu ketiak. Oh, iya, kata ini cuma bisa digunakan oleh orang Sunda saja ya. :D

Misalkan, seorang kawan sedang memainkan melodi gitar Paul Gilbert yang terkenal dengan kecepatan jarinya, maka ketika dia bermain gitar kita semua akan berkata, “Ajih, burudul kelek euy melodi maneh” yang artinya sama saja dengan “Gila, hebat banget lo melodinya!”

Atau ketika mendatangi suatu pensi, lalu ada teman yang bertanya “Kumaha euy anu daratang? Loba teu? (Gimana yang datang? Banyak nggak?), kita biasanya akan menjawab dengan “Murudul kelek, Bray! Rea pisan!” (Murudul kelek, Bray! Banyak banget!)

Nah, sebenarnya kata itu diambil dari sebuah cerita. Jadi begini ceritanya..

Pada suatu hari di kota Bandung, hiduplah dua orang pemuda. Mereka adalah si Abdul dan si Alek. Mereka berdua adalah mahasiswa universitas negeri terkenal di kota itu, tinggal di sebuah rumah kontrakan yang terdiri dari 2 kamar tidur, 1 dapur, dan 1 kamar mandi.

Kecil memang, tetapi cukup untuk menjadi tempat mereka bernaung. Takdir telah mempertemukan mereka di rumah itu. Dua lelaki bujang tinggal berdua dalam satu atap tentulah tidak mudah, tetapi mereka hidup rukun. Sampai pada akhirnya pertengkaran kecil terjadi.

***

Hari itu mereka harus kuliah pagi. Alek kuliah jam 7 pagi, sedangkan Abdul kuliah jam 8 pagi. Semalam mereka habis begadang nonton bola sehingga telat bangun. Meski kuliah jam 8 pagi, Abdul bangun lebih cepat daripada Alek, waktu menunjukkan pukul 06:55. Perut mules membuat dirinya terpaksa bangun lebih cepat. Segeralah Abdul menuju kamar mandi untuk setoran.

Belum lama masuk ke kamar mandi, Alek bangun dari tidurnya. Dia tersentak melihat angka yang ditunjukkan oleh jarum jam. Alek pun berlari menuju kamar mandi. Dia membiasakan diri harus mandi sebelum keluar rumah, tetapi sayang kamar mandi saat itu dikuasai oleh Abdul. Alek pun menggedor pintu kamar mandi.

“Dul, burukeun euy! Aing telat kuliah yeuh!” Teriak Alek.

“Hmm.. Kalem keudeung deui..” Kata Abdul datar.

“Atuh, Dul. Burukeun! Aing geus telat pisan yeuh!” Alek terus menggedor pintu kamar mandi.

“Enya, kalem, Lek. Keudeung deui rajana kaluar yeuh.” Abdul menjelaskan, meminta Alek untuk bersabar.

Alek geram, dia membabi buta menggedor pintu kamar mandi sambil berteriak, “BURU, DUL!!!”

Abdul masih menghayati pertempuran dengan perutnya cuma menjawab, “NGKE, LEK!”

“Buru, Dul!”

“Ngke, Lek!”

“Buru, Dul! Desak Alek.

“Ke, Lek!” Teriak Abdul dari dalam kamar mandi.

“Buru, Dul!”

“Ke, Lek!”

“Buru, Dul!

“BURUDUL KELEEEK!!!” Teriak Abdul dari dalam kamar mandi. “RAJANA KALUAR REA PISAN!!!” Lanjutnya. Beberapa saat kemudian Abdul pun keluar dari kamar mandi tak menghiraukan Alek. Sejak saat itu pertemanan mereka rusak.

Tamat

Selasa, 21 September 2010

PECINTA AMATIRAN

“Eh, beb. Lihat, deh.” Alya menyodorkan ponselnya kepadaku

“Jiee, sombong banget deh yang hapenya baru. Hahaha.” Goda Risa.

“Ih, bukan itu. Lihat dulu makanya.” Alya memperlihatkan sebuah foto di ponsel barunya.

“Hah? Ka.. Kamu kok bisa-bisanya sih? Ini siapa? Pacar baru kamu?” Risa tersentak melihat foto sahabatnya dengan seorang pria tak dikenal.

“Iya, pacar baruku. Hihihi. Itu belum seberapa kali. Nih, sekarang lihat yang ini.”

“Astagfirullah! Alya! Kamu parah banget sih? Itu kan dosa! Ckckck.” Risa sedikit gusar melihat Alya yang sedang berpelukan dan berciuman mesra dengan pacar barunya.

“Nah, kan. Dasar kuno deh sobat gue yang satu ini. Udah biasa kali beb foto ciuman doang sih.” Bela Alya.

“I.. Iya, sih. Tapi kan..”

“Ah, dosennya udah dateng tuh. Yuk, kita masuk kelas.” Kata Alya memotong perkataan Risa. Mereka pun memulai perkuliahan.

Risa dan Alya adalah seorang sahabat karib. Sedari kecil rumah mereka berdekatan. Alya terlahir di keluarga golongan atas yang terpandang. Ayahnya yang bekerja sebagai direktur di perusahaan swasta ternama membuat keluarga mereka berlimpah harta. Ibunya hobi liburan ke luar negeri. Kakak-kakaknya pun bisa dibilang sangat gaul di kota mereka, hampir semua orang tahu siapa mereka. Dan, sepertinya tak ada yang tak bisa mereka beli. Mulai dari koleksi mobil mewah sampai sepeda kuno mereka miliki.

Sedangkan Risa berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya adalah seorang guru di sekolah negeri. Penghasilannya pas-pasan untuk menghidupi keluarganya. Kakaknya bekerja di luar kota. Alhasil, ibunya harus membuka warung untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Meski demikian, Risa dan Alya berteman baik. sepertinya perbedaan materi bukanlah suatu masalah.

Risa yang terlahir di keluarga yang sederhana tumbuh menjadi seorang muslimah yang sholeh. Shalat 5 waktu tak pernah dia tinggalkan. Setiap malam Al-Qur’an pun menjadi bacaan wajibnya. Di era yang serba instant seperti sekarang ini mungkin Risa bisa dibilang sedikit kuno. Sedangkan Alya lebih moderen daripada Risa.

“Beb, lo cari cowok gih. Kadang gue suka kasihan ngeliat lo. Masak sih pegangan tangan sama cowok aja belum pernah?” Bisik Alya. Kuliah saat itu terasa menjemukan. Salah satu mata kuliah yang kurang disukai mereka berdua, Filsafat Manusia. Alya membuka percakapan di kelas membosankan itu.

Risa, sampai saat ini memang belum pernah pacaran. Jangankan untuk bercumbu, pegangan tangan saja dia geli membayangkannya. Bukan karena tidak ada lelaki yang mendekatinya, tetapi memang karena prinsipnya yang kuno. Sedangkan Alya sering berganti pacar. Alasannya adalah selagi masih muda kenapa harus terikat dengan satu orang saja. Mungkin karena itulah Risa shock melihat foto Alya dengan kekasihnya barunya.

“Ah, nggak ah, Al. Aku masih belum mau pacaran. Aku pengennya nanti sekali pacaran langsung nikah.” Kata Risa.

“Yaelaaah.. Gue serius, Sa. Minimal lo harus nyoba pacaran dulu deh selagi muda. Kalo lo mau nanti gue kenalin temen gue. Namanya Andre. Tampang dan bodinya oke punya. Nih, fotonya kalo mau lihat.” Alya menyodorkan ponselnya. “Dia sempet deketin gue tapi gue tolak. Soalnya dia agak sok suci gitu.” Lanjutnya.

“Sok suci gimana emang, Al?” Tanya Risa sambil memperhatikan sosok lelaki di ponsel Alya.

“Hahaha. Tumben lo nanya balik? Biasanya gak pernah dianggep kalo gue nanya beginian.” Alya tertawa kecil. Risa cuma tersenyum.

“Yah, Islamnya bagus, sih. Solatnya juga lumayan rajin. Keluarganya juga berada. Bokapnya kalo gak salah ustadz gitu deh. Nah, gue suka kesel aja sama dia. Sok-sokan ngingetin gue solat. Tiap subuh nelfonin mulu ngebangunin gue solat subuh.” Lanjut Alya.

“Hmm, gitu. Bagus dong kalo ngingetin solat?” Nada bicara Risa seperti tertarik pada pria ini.

“Hihi. Dia nanya lagi. Kayaknya ada yang tertarik nih?” Alya menggoda. “Bagus, sih. Tapi kadang suka kesel aja, Ris. Lo tau sendiri gue paling susah bangun buat solat subuh.” Lanjutnya.

“Hei kalian berdua yang di pojok! Dari tadi saya perhatikan kalian berdua ngobrol terus! Sekali lagi kalian ngobrol, silakan keluar dari kelas saya!” Teriakan dosen memecah kesunyian di kelas. Mahasiswa lain tersentak kaget. Ada pula yang terbangun dari tidurnya, sampai air liurnya membasahi meja.

“I.. Iya, Pak. Maaf.” Kata Risa dan Alya kompak. “Ini nih alasan gue gak suka kelas filsafat. Udah mah dosennya galak, ngebosenin pula. Dasar dosen botak!” Bisik Alya. Badan Risa terguncang menahan tawa.

“Eh, Sa, nanti pokoknya gue kenalin sama Andre. Gue kasih nomor hape lo ke dia ya? Biar dia bisa langsung ngehubungin lo. Oke? Sekarang kita kuliah yang bener dulu deh. Daripada didamprat lagi.” Lanjut Alya. Risa mengangguk perlahan tanda setuju.

Malam harinya Risa mendapati nomor asing menelepon ponselnya. Dugaannya benar. Andre mengajak berkenalan. Sedikit aneh sih memang berkenalan lewat telepon. Tapi akhirnya perkenalan itu berjalan lancar. Andre ternyata orangnya baik. Risa menemukan kecocokkan di antara mereka. Mulai dari makanan kesukaan, hobi, sampai pengetahuan mengenai agama pun terasa cocok.

Semakin hari Andre semakin rajin menghubungin Risa. SMS, telepon, terkadang Risa sengaja pergi ke warnet untuk mengobrol via webcam. Wall facebook dan timeline di twitter pun banyak dihiasi oleh nama Andre. Risa mulai jatuh hati pada Andre meskipun mereka belum pernah bertemu.


***
Sebulan kemudian..

“Halo, Al. Aku main ke rumah kamu ya. Ada cerita nih. Hehehe.” Risa menelepon Alya sore itu. Nadanya seperti yang senang tapi bingung. Hari itu kuliah diliburkan. Katanya sih dosen filsafat mereka jatuh sakit.

“Aih, ada cerita seru apa, Sa? Yaudah, cepetan ke rumah! Kebeneran gue lagi gak ada kerjaan nih gara-gara libur. Nanti langsung masuk aja ya, bilang aja sama Pak Didi mau ketemu gue.” Teriak Alya di telepon.

Risa menutup teleponnya, lalu pergi ke rumah Alya. Dia mengalami sedikit kesulitan masuk ke rumah Alya. Maklum, Pak Didi belum lama bekerja sebagai satpam di rumah itu. Akhirnya Risa diperbolehkan masuk setelah diinterogasi beberapa menit.

“Ampun deh satpam baru kamu tuh, Al. Bawel banget sama orang baru. Kamu juga bukannya ngasih tau dulu aku mau main ke sini. Dasar.” Gerutu Risa sesampainya di kamar Alya.

“Hehehe. Sengaja, beb. Abisnya lo sombong gila. Jarang banget main ke rumah gue. Di kampus juga jarang ketemu. Tiap beres kelas lo langsung ngilang.” Celetuk Alya.

“Hehehe. Sori, deh. Beberapa hari ini aku sering main ke warnet soalnya.”

“Warnet? Tumben amat. Pasti gara-gara Andre ya! Ayo cerita! Hahaha.”

“Iya, Al. Hehehe. Itu yang mau aku ceritain sama kamu. Andre ngajakin aku ketemuan.” Kata Risa.

“Ahahaha. Bener dugaan gue. Ayo cepet cerita!” Desak Alya tak sabar.

Risa mulai bercerita dari awal Andre meneleponnya sampai saat ini. Bagaimana Andre membangunkannya setiap pagi. Mengingatkannya agar tak lupa makan. Mengirim SMS yang mengingatkannya supaya tidak lupa shalat. Bagaimana Andre bercerita tentang kehidupannya. Sampai akhirnya Andre mengajak ketemuan. Tetapi Risa merasa takut dan malu untuk bertemu. Dia benar-benar suka Andre.

Alya diam mendengarkan Risa. Dia bahagia akhirnya sahabatnya merasakan jatuh cinta. Alya yang lebih berpengalaman memberikan saran kepada Risa yang masih cupu dalam hal percintaan. Dia berhasil meyakinkan Risa memenuhi ajakan Andre.


***
Keesokan harinya..

Risa dan Andre akhirnya bertemu. Andre menjemput Risa ke kampusnya sepulang kuliah. Mereka pun memutuskan untuk makan siang bersama. Dilanjutkan dengan pergi ke bioskop menonton film yang saat itu sedang trending kala itu. Mereka berdua memang sering membicarakan film kalau sedang mengobrol.

Kemudian Andre mengantarkan Risa pulang ke rumahnya. Setelah berkenalan dengan orang tua Risa, mereka melanjutkan obrolan di teras depan rumah Risa. Jika diperhatikan, peri cinta terlihat sedang menghujamkan panah cinta ke arah mereka berdua. Dua insan muda yang sedang jatuh cinta. Malam itu ditutup dengan pernyataan cinta Andre ke Risa. Risa tak sanggup menolak. Dia benar-benar jatuh cinta. Sejak saat itu pun mereka pacaran.


***
Satu setengah tahun kemudian..

Alya benar-benar kehilangan Risa. Sejak pertemuannya dengan Andre, Risa semakin jarang menghubunginya. Bahkan di kampus pun Risa jarang kelihatan sejak beberapa bulan terakhir. Ditelepon ke ponsel dan telepon rumah pun Risa menghindar, tak mau menerima panggilan. Risa juga jarang kelihatan di depan rumah. Padahal biasanya dia rajin menyirami tanaman dan bunga di pekarangannya. Mobil Andre pun beberapa bulan terakhir ini menghilang, padahal biasanya selalu terparkir di depan rumah Risa. Sampai akhirnya Alya mendapati sebuah stasiun menayangkan sebuah running text yang membuatnya shock.

“Video mesum seorang mahasiswi Parasantha bersama seorang anak ustadz beredar di internet..”

Keesokan harinya kampus heboh membicarakan berita tersebut. Dosen, petugas tata usaha, mahasiswa lama, mahasiswa baru, sampai petugas kebersihan pun membicarakan berita itu. Belum jelas memang siapa pelaku video mesum itu, tetapi Alya menduga itu adalah Risa. Sore harinya Alya memutuskan untuk berkunjung ke rumah Risa.

“Permisi, Tante Ida. Risanya ada?” Tanya Alya kepada seorang wanita yang membukakan pintu, ibunya Risa. Mukanya terlihat kusut. Seperti orang yang sedang menanggung beban berat.

“Maaf ya, Neng Alya. Risa gak mau diganggu sama siapa pun katanya.” Kata Tante Ida sembari mencoba menutup pintu rumahnya.

“Sebentar, Tante.” Alya menahan pintu agar tetap terbuka. “Saya pengen banget ketemu Risa. Saya mohon ya, tante. Ini masalah hidup dan mati.” Alya berbohong. Dia berpikir itu satu-satunya cara agar dia dapat masuk ke dalam rumah itu.

Terdiam, seakan tahu apa yang terjadi, akhirnya tante Ida berbicara. “Ya, sudah. Silakan masuk, Neng. Risa ada di kamarnya. Coba ketuk pintunya, siapa tahu dia buka. Sudah beberapa hari ini dia gak mau makan.” Kata Tante Ida parau, seperti sedang menahan tangis.

“Terima kasih, Tante.” Ucap Alya sembari melangkah masuk. Kakinya membawanya ke depan kamar Risa.

“Saaa.. Risaaa.. Ini gue Alya.. Bukain pintunya dooong.. Gue mau masuk nih..” Kata Alya sambil mengetuk pintu kamar Risa. Hening. Tak ada jawaban apa pun di dalamnya.

“Saaa.. Ini gue, Saaa.. Ayo dong bukain pintunya.. Gue kangen banget sama lo, Saaa..” Alya mencoba mengetuk lagi, kali ini lebih keras, dia menggunakan kepalan tangannya, lebih tepat dikatakan menggedor daripada mengetuk. Tante Ida memperhatikan. Alya sekilas melihat air mata mengalir di wajah ibu sahabatnya itu.

“RISAAA!!! BUKAIN PINTUNYA ATAU GUE MASUK DENGAN PAKSA!!!” Teriakan Alya membahana. Memecah keheningan di rumah itu. Terdengar isak tangis seorang wanita di dalam kamar itu. Begitu pula di belakang Alya, Tante Ida tak kuat menahan emosinya. Alya tak menghiraukan.

“Saaa.. Please, gue mohon, gue tahu lo ada di dalam, bukain pintu ini, gue harus ketemu lo, Saaa..” Alya mulai terdengar putus asa. Dia terdiam. Tak tahu harus bagaimana. Beberapa saat kemudian, derap langkah terdengar dari dalam kamar. Risa membuka pintu kamarnya.

Sedikit kaget melihat Risa yang biasanya berpenampilan rapi kini kusut tak karuan. Pipinya menjadi cekung. Terlihat warna hitam di bawah matanya. Mengenakan jaket tebal sambil menyilangkan tangannya.

“Risaaa!?! Kamu kenapa, sih?” Tanya Alya kepada sahabatnya.

Risa terdiam. Dia lalu melemparkan tubuhnya ke arah Alya. Memeluknya dengan sangat erat. Air mata membasahi tubuh Alya. Dia semakin curiga bahwa pelaku video mesum di berita itu adalah sahabatnya sendiri. Tetapi dia berusaha menepis pikiran itu.

“Kamu.. Kenapa, Sa? Alya berkata sehalus mungkin.

Risa mendorong tubuh Alya. Dia membuka jaketnya. Memamerkan perutnya yang menggembung di badannya yang kurus. Entah disimpan di mana sebelumnya, Risa tiba-tiba menggenggam sebilah pisau dan mengacungkannya ke arah Alya.

“Ke.. Kenapa!? KAMU TANYA KENAPA!? INI SEMUA GARA-GARA KAMU!? Risa berteriak. Suaranya bergetar. Masih mengacungkan pisau ke arah Alya. Alya dan Tante Ida terkejut. Lalu mereka mencoba mendekatinya.

“DIAM! JANGAN ADA YANG BERGERAK! IBU JUGA, DIAM!” Suara Risa meledak-meledak. Alya dan Tante Ida terdiam menuruti perkataannya.

Alya mencoba berbicara. “Ini karena Andre? Sorry banget, Sa. Gue gak tahu kalo ujungnya bakal kayak gini.” Alya mencuri melangkah mendekati Risa perlahan.

“Ah! Kubilang diam! Jangan sebut nama itu di depanku! Aku benci dia! Karena kamu, Alya! Dan karena lelaki bajingan itu! Aku malu, Al, Bu. AKU MALU!!! Lebih baik aku mati saja. YA! MATI BERSAMA BAYI HARAM INI!”

Tiba-tiba darah segar menyembur dari tangan, perut, dan leher Risa. Dia mengiris urat nadinya, menancapkan pisau itu ke perutnya, lalu menghabisi nyawanya dengan menyayat lehernya.

“RISAAA…!!!” Alya dan Tante Ida berteriak bersamaan lalu menghampiri tubuh Risa yang tergeletak.

Mereka sama sekali tak sempat mencegah Risa. Semuanya terjadi begitu cepat. Mereka berdua memeluk Risa. Darah segar terus mengalir dari tiga luka yang menganga lebar. Tubuhnya kejang-kejang kesakitan. Beberapa detik kemudian, Risa menghembuskan napas terakhirnya. Dia telah tiada.


***
6 bulan sebelumnya..

Hari itu Risa dan Andre pulang kencan. Orang tua Risa sedang ke luar kota, kabarnya kakaknya jatuh sakit. Rumah Risa kosong, hanya ada mereka berdua di ruang keluarga. Sedang menonton sebuah tayangan televisi.

“Ris, can i kiss you?” Andre tiba-tiba bertanya.

“Hah? Ciuman? Jangan dulu ya, Dre. Kita kan belum lama pacaran. Lagian kita berdua tahu kalo itu tuh dosa.” Jawab Risa tenang. Di balik ketenangannya ternyata Risa merasa sangat penasaran seperti apakah rasanya ciuman itu.

“Ayolaaah.. Hari ini kan kita genap setahun pacaran.. Can i get a simple kiss from you?” Bujuk Andre.

Risa terdiam. Dia bingung. Terjadi pergelutan antara rasa penasaran yang menghantuinya dan norma yang mengikatnya.

“Jadi? Boleh yah? Andre masih berusaha membujuk.

“Euh.. Ya udah.. Tapi sekali aja ya ciumannya..” Risa mengiyakan.

Andre mendekatkan wajahnya. Tangannya membelai rambut Risa. Bola mata mereka saling bertatapan, memancarkan cinta. Spontan Risa menutup matanya. Hembusan napas Andre menyentuh halus kulitnya. Tubuhnya lemas. Kedua bibir anak muda itu kini bersentuhan. Aliran darah Risa menjadi lebih cepat seribu kali lipat menuju otaknya, membuatnya seakan melayang. Andre memeluk Risa, dekapannya terasa begitu kuat. Terdengar dua detak jantung yang berbalapan. Ini ciuman pertamanya. Ternyata begitu nikmat.

Entah bagaimana tangan Andre bisa menyentuh paha Risa, mencoba menyentuh bagian vitalnya. Hati Risa berusaha memberontak, tetapi tubuhnya tak melawan. Semuanya terasa begitu menyenangkan. Satu per satu kain yang menutupi tubuh mereka berdua berserakan di atas lantai. Andre meminta ijin untuk mengabadikan momen ini, Risa mengangguk pelan. Dikuasai oleh birahi, mereka berdua lupa diri. Mereka pun akhirnya bercinta. Bersenggama.


Quote :
"Ketika birahi yang juara, etika menguap entah ke mana.." ~ Efek Rumah Kaca

Minggu, 19 September 2010

LANTAI 13

“Laras.. Kamu yakin dengan ini?”

“Lho? Kok kamu nanya kayak gitu, Ron? Kalau aku gak yakin buat apa aku minta kamu datang ke kamarku.” Laras berusaha meyakinkan.

“Euh, tapi.. Kita belum lama kenal. Lagipula biar bagaimana pun kamu itu masih tamu aku, Ras. Kamu yakin dengan ini?” Roni kembali bertanya.

“Ya, aku yakin. Sudah jangan banyak tanya. Cepat buka celanamu.”

Roni tak dapat berpikir jernih. Semua ini serba mendadak dan begitu membingungkan. Terdiam.

Memorinya mundur ke enam hari yang lalu.

***
25 Oktober 2010

Sore itu begitu hectic. Polusi suara dari kemacetan di daerah Salemba menembus dinding kaca pintu lobby Hotel Amalia. Tamu-tamu yang berdatangan pun tak kunjung henti. Mulai dari keluarga yang membawa bayi dan anak-anak kecil yang berisik, sampai tamu penting yang selalu disambut dan dilayani oleh para butler. Seorang karyawan yang bekerja di front office terlihat kesulitan bernapas melayani para tamu.

“Haaahhh.. Akhirnya aku bisa bernapas! Banyak banget sih tamu hari ini? Gak biasanya weekday sepenuh ini.” Teriak Roni kepada dirinya sendiri.

Roni memang belum lama bekerja di Hotel Amalia. Tak sampai sebulan sejak kelulusannya di sebuah sekolah pariwisata ternama di Bandung, dia langsung diterima bekerja di hotel itu. Oleh karena itu Roni seringkali berbicara sendiri, belum punya banyak teman. Peringainya pun sedikit aneh. Dia senang melakukan apa pun yang menurutnya menyenangkan, meskipun itu melanggar aturan. Kelebihannya adalah badannya yang atletis dan wajahnya yang tampan.

“Wuidih. Siapa tuh?” Roni kembali bermonolog. Matanya tertuju pada seorang wanita cantik di depan pintu lobby hotel.

Gaun merah ngejreng membalut tubuh molek wanita itu. Sepatu hak membuat dirinya menjadi tinggi semampai. Di bagian kepala dihiasi oleh topi anyaman dan sebuah kacamata hitam. Agak sedikit aneh memang untuk digunakan dalam cuaca panas saat itu. Tangannya membawa sebuah koper kecil yang diseret. Cara berjalannya yang bagaikan model menandakan bahwa dia adalah seorang wanita sangat berkelas. Dia berjalan menghampiri Roni.

“Selamat sore, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” Sapa Roni ramah.

“Saya mau ambil kunci kamar.” Jawab wanita itu dingin.

“Kamarnya nomor berapa ya, Bu? Atau saya panggil Mbak? Kelihatannya masih sangat muda.” Tanya Roni sambil berusaha menggoda wanita itu.

“Kamar 13266.” Jawab wanita itu datar.

“13266? Gak salah, Bu? Eh, Mbak? Seingat saya tidak ada nomor kamar itu di hotel kami.” Kata Roni sembari mencari kunci kamar baik yang ada di laci maupun yang tergantung di dinding.

“Itu. Tergantung di dinding paling atas.” Nada dingin kembali dilontarkan wanita itu. Jarinya yang menunjuk sebuah kunci yang menggantung menggambarkan keangkuhannya.

“Oh, iya. Biar saya ambilkan dulu ya, Bu. Eh, Mbak.” Roni masih berusaha menggodanya. Wanita itu diam saja.

“Silakan ini kuncinya. Sebentar saya panggilkan dulu bellboy untuk membawakan barang bawaan Ibu ke kamar.” Roni berhenti menggodanya setelah mengetahui bahwa usahanya itu sia-sia.

Wanita itu mendekatkan wajahnya ke dada Roni. Roni merasa di balik kacamatanya tatapannya tertuju pada pin nama yang menempel di dada Roni. Lalu dia berkata, “Roni, ya? Saya ingin kamu yang membawakan koper saya. Sekarang. Saya tunggu di depan lift.” Kata wanita itu.

“Eh, tapi, Bu..” Roni mencoba berkelit. Namun wanita itu keburu membalikkan badannya dan berjalan ke arah lift. Terpaksa Roni mengikutinya. Sekarang mereka berada di dalam lift yang sama. Cuma ada mereka berdua di dalam lift tersebut. Lift pun mulai bekerja melawan hukum gravitasi bumi, membawa mereka ke lantai tujuan.

“Sendirian saja, Bu?” Roni berusaha mencairkan suasana.

“Sudah. Jangan panggil saya Mbak-Bu, Mbak-Bu. Saya terdengar seperti pembantu. Panggil saja Laras.” Wanita itu menjawab dengan ramah. Roni menjadi bingung sendiri mendengar nada ramah yang keluar dari mulut wanita itu.

“I.. Iya, Mbak Laras.” Jawab Roni dengan gugup.

“Laras saja, Ron.” Akhirnya mereka sampai di lantai tujuan. Indikator lift menunjukkan angka 13. Begitu pintu lift terbuka, terlihat cahaya yang masuk melalui jendela di sebelah kanan. Mereka berjalan di atas karpet merah dengan motif bunga tulip lalu melintasi meja kayu yang dihiasi satu vas bunga cantik di atasnya.

Pemandangan itu sudah sangat biasa bagi Roni, meskipun dia baru beberapa bulan bekerja di hotel itu. Sebelumnya dia sempat bekerja sebagai butler yang melayani tamu-tamu VIP Hotel Amalia. Namun, Roni menyadari ada yang sedikit berbeda di sana. Udara dingin terasa lebih menusuk. Cahaya lampu pun agaknya lebih redup dari biasanya. Belum lagi suasananya lebih mencekam dan lebih sepi dari biasanya.

“Oke, Laras. Kita sudah sampai di kamarmu.” Roni memecah kebisuan di antara mereka sejak keluar dari lift.

“Nah, gitu dong. Umur kita kan gak beda jauh. Terima kasih ya, Ron.” Jawab Laras.

“Hehehe. Iya, Laras. Sama-sama. Ada lagi yang bisa saya bantu? Membawakan koper ke dalam kamarmu mungkin.” Tanya Roni sok akrab.

“Hmm, Apa ya? Boleh aku minta nomor ponselmu? Siapa tahu nanti aku butuh sesuatu.”

“Euh, nomor ponsel? Bo.. Boleh.” Roni membacakan nomor ponselnya dengan gugup. Dia bingung. Belum pernah ada tamu yang meminta nomor ponselnya selama ini.

“Oke, udah aku save. Nanti kalo aku butuh sesuatu, aku tinggal kontak kamu aja ya, Ron. Sudah dulu ya. Aku capek. Pengen mandi terus rebahan deh. Makasih ya Roni.” Laras berkata sambil tersenyum manis.

“O.. Oke, Laras. Se.. Selamat beristirahat.” Roni semakin gugup dengan sikap Laras yang berubah total menjadi ramah dan akrab. “Saya permisi dulu kalau begitu.” Roni pun berjalan meninggalkan Laras.

***
Malam harinya..

Malam sudah larut. Pergantian shift jaga sudah dilakukan. Roni berada di ruang loker. “Siapa nih?” Tanya Roni kepada cermin di lokernya. “Laras?” Dia kaget melihat ada tiga missed call setiap selang 60 menit dan dua SMS dari nomor tak dikenal.

Inbox (2)

From : +628166600666

25 Oktober 2010 ; 20:01:03
Hi, Ron. Ini aku, Laras. Bisa tolong ke kamarku sekarang?

25 Oktober 2010 ; 23:10:00
Ron, masih sibuk? Barusan aku telepon kamu 3 kali. Aku lupa, biasanya kalo lagi kerja gak boleh bawa ponsel ya? Telepon aku ya kalo udah santai. Ini nomorku, jangan lupa disave ya, Ron. :)


Antara senang dan bingung Roni membaca SMS yang dikirim oleh Laras. Sudah lama tak ada wanita yang mencarinya seperti ini. Pakai emoticon senyum pula. Dia mondar-mandir di depan lokernya. Tak tahu apa yang harus dilakukan.

“Sudah hampir jam 2 pagi. Sopan gak ya kalau aku meneleponya sekarang? Nanti dikira gak sopan. Tapi Laras sendiri yang memintaku untuk meneleponnya kalau aku sudah beres kerja. Aduuuh… Gimana iniii...!?!” Terjadi pergelutan antara Id dan Superego Roni.

Di satu sisi Roni diminta oleh Laras untuk meneleponnya, dan memang itu keinginan Roni. Di sisi lain malam sudah sangat larut. Sangat tidak sopan menelepon tamu di jam seperti itu. Langkah Roni terhenti. Dia menatap dirinya di cermin. Akhirnya dia memutuskan untuk menelepon Laras. Setelah tiga nada sambung terdengar suara perempuan di seberang sana. Suara yang serak. Tetapi Roni menangkapnya sebagai suara paling seksi yang pernah dia dengar.

“Hi, Ron. Kok malam amat sih neleponnya? Hampir saja aku ketiduran nunggu telepon dari kamu.” Sapa Laras.

“Iya nih. Aku baru beres kerja jam 12 lebih. Terus tadi beres-beres dulu. Mandi dulu. Baru sekarang deh aku lihat ponsel lagi.
Tadi ada apa nelepon aku, Ras?” Bingung harus berkata apa. Roni merasa sangat aneh dengan sikap tamunya itu.

“Iya, tadinya aku mau minta ditemenin makan malam di kamarku. Aku kan tidur di sini sendirian.” Jawab Laras mesra.

“Oh, gitu. Maaf ya, Ras. Waktu kamu nelepon aku masih jaga.”

“Iya, gak apa-apa, kok. Sebagai gantinya, besok siang kamu temani aku makan siang ya. Jam 1 siang di kamarku. Menunya roasted duck dan buncis stze tjuan. Jam 1 ya. Kamu saja yang bawa makanannya ke kamarku. Oke? Ditunggu lho ya. Awas nanti kalo kamu gak dateng aku aduin ke manajer kamu karena gak mau melayani tamu. Sudah ya, aku tidur dulu. Aku capek nungguin telepon dari kamu. Tapi aku senang udah denger suara kamu. Jadi aku bisa tidur nyenyak malam ini. Malam, Ron. Selamat istirahat.” Laras menyerang membabi buta dengan rentetan kata-kata. Tak memberi celah untuk Roni membalas perkataannya.

“Oke, Laras.” Belum sempat membalas, panggilan sudah terputus. Roni tersenyum sumringah. Tetapi kepalanya berputar. “Apa yang sebenarnya sedang terjadi?” Pikirnya.

***

Keesokan siangnya Roni memenuhi permintaan Laras. Gerobak makanan berisi roasted duck dan buncis sze tjuan ditambah beberapa minuman didorong oleh Roni masuk ke kamar Laras.

“Halo, Roniii..” Sapa Laras dengan riang dari dalam kamar. Sebuah kamar deluxe dengan king size spring bed. Bed cover berwarna merah marun menutupi ranjang itu. Menempel sebuah lukisan bergambar wanita sedang menari tarian Bali di atas dinding ranjang itu. Tirai abu yang menghalangi cahaya masuk ke dalam kamar. Tirai itu bergerak seperti tertiup angin dari luar kamar. TV Flat screen didiamkan menyala di saluran telenovela lawas. Koper tersimpan di atas rak sepatu dalam keadaan tertutup. Lemari pakaian yang terbuka pun tak terlihat ada isinya. Tak ada jejak air yang tersisa di kamar mandi yang pintunya terbuka. Dan, Laras masih mengenakan gaun merah yang Roni ingat.

“Hi, Laras. Ini pesananmu.” Jawab Roni. Di saat yang bersamaan Roni berkata dalam hati. “Kamar dan orang yang aneh.”

Hampir dua jam mereka habiskan di dalam kamar itu. Mulai dari mencicipi hidangan sampai ngobrol ngalor ngidul. Mereka menemukan kesamaan dalam hobi dan sifat. Jika mereka pacaran atau menikah mungkin menjadi pasangan yang serasi. Terbawa suasana, mereka akhirnya berciuman.

Sejak itu hubungan mereka menjadi semakin intens. Mulai dari SMS, ngobrol di telepon selama berjam-jam, sampai makan malam bersama di kamar Laras. Roni sering mendapat teguran dari manajernya gara-gara tertangkap basah menggunakan ponsel pada jam kerja. Tapi Roni tak peduli.

Dia tidak sedang menelepon, atau pun main SMS, dia cuma membaca SMS dari Laras yang disimpannya dalam folder khusus di ponselnya. Di kepalanya sekarang cuma ada Laras. Roni mulai berpikir untuk membawa hubungan mereka lebih jauh dari sekedar ini. Pacaran, atau bahkan menikah. Sampai akhirnya malam itu pun tiba.

***
31 Oktober 2010

Roni baru saja sampai di tempat kerjanya. Dia sedang berbenah di ruang loker. Tak lama kemudian ponselnya berbunyi. Ada SMS dari Laras.

Inbox (1)

31 Oktober 2010 ; 15:00:00

Sayang., ini malam terakhirku di hotel. Datang ya ke kamarku tepat pukul 21:30, tak kurang dan tak lebih. Aku punya kejutan untukmu. Kita akan melakukan ‘permainan terhebat sepanjang masa’. Aku tak mau mendengar alasan kamu gak bisa datang. Oke, sayangku? Sekali lagi, DATANG TEPAT WAKTU. TAK KURANG DAN TAK LEBIH. See you later, Ron. :)


“Kenapa nih si Laras. Kok kayaknya serius amat. Pake huruf kapital segala.” Roni mengernyitka dahinya. Lalu dia membalas SMS itu singkat. Tapi rasa penasaran Roni begitu menggebu.

Oke, Larasku sayang.. Nanti aku pasti dateng kok. Aku kerja dulu ya. Bye. :)

“Oke, gini aja kali ya.” Ucap Roni dalam hati sembari menekan tombol send.

Waktu terasa begitu lama. Roni sudah tak sabar menantikan kejutan apa yang akan Laras berikan. Dirinya sudah berencana untuk ijin pulang duluan. Dia meminta tolong kepada salah seorang kenalannya di Hotel Amalia.

“Sial. Udah jam Sembilan nih. Si Roy ke mana sih? Gua suruh dia stand-by dari jam Sembilan kurang juga. Dasar tukang ngaret.” Roni menggerutu. Dia gelisah karena waktu sudah semakin mepet. Tak lama Roy pun datang.

“Roy! Sini cepetan!” Roni berbisik sekeras mungkin kepada Roy di balik pintu front office. Menghindari kecurigaan dari orang-orang di sekitar Lobby.

“Ada apaan sih, Ron? Heboh amat deh lo hari ini.”

“Hehehe. Gue ada perlu nih, Bro. Lo gantiin gue ya dari sekarang. Sesuai perjanjian, nanti lo gue traktir makan siang tiga kali!” Kata Roni riang.

“Iya, bawel. Tapi ada apa sih emang?” Roy penasaran.

“Rahasia ya, Bro. Gue diundang sama tamu hotel ke kamarnya. Kamar 13266. Hehehe.” Bisik Roni.

“Hah? 13266? Emangnya ada ya kamar itu?” Tanya Roy bingung.

“Ssssst.. Kenceng amat suara lo! Kecilin dikit napa tuh suara? Ada kali Roy. Kamarnya di lantai 13. Tamunya cewek seksoy yang hampir seminggu lalu dateng pake gaun merah gitu. Masak sih lo yang udah lama kerja di sini kagak tau?”

“Tau ah gelap.. Have fun aja deh buat lo. Awas taunya cewek itu setan! Hahaha.” Goda Roy.

“Kampret! Berisik lo ah. Udah ya, gantiin gue ya. Gue udah telat nih. Timingnya harus pas banget soalnya. Gue cabut dulu oke, Bro. Thanks a lot!” Roni pun pergi meninggalkan Roy. Sementara Roy meninggalkan kebingungannya akan sikap temannya. Roy mulai berjaga di depan front office.

***
21:30 di lantai 13..

Roni sudah siap di depan kamar 13266 dengan setelan terbaiknya. Tuksedo berwarna hitam dengan bahan Armani palsu yang dibelinya di Mangga Dua. Bunga mawar merah menghiasi saku jasnya, sementara dasi kupu-kupu terikat di lehernya. Dia pun menekan bel kamar itu.

“Hi, darling. Are you ready?” Laras membuka pintu kamarnya. Tubuhnya yang montok hanya berbalut lingerie tipis berwarna merah. Siapa pun yang melihatnya malam itu pasti ingin menidurinya. Penerangan di dalam kamar lebih redup dari hari biasanya. Dia menarik Roni masuk ke dalam kamar.

“Aku udah siap. Emangnya kita mau ngapain sih?” Roni bertanya polos.

“We’re going to have sex, baby. Aku tahu dari pertama kamu lihat aku kamu menginginkan tubuhku. Bukan begitu, sayangku?” Laras menggoda Roni dengan dahsyatnya. Ruangan sunyi itu terdengar detak jantung Roni yang menderu sangat kencang. Roni terlihat sedikit ragu dengan tawaran menggiurkan ini.

“Laras.. Kamu yakin dengan ini?”

“Lho? Kok kamu nanya kayak gitu, Ron? Kalau aku gak yakin buat apa aku minta kamu datang ke kamarku.” Laras berusaha meyakinkan.

“Euh, tapi.. Kita belum lama kenal. Lagipula biar bagaimana pun kamu itu masih tamu aku, Ras. Kamu yakin dengan ini?” Roni kembali bertanya.

“Ya, aku yakin. Sudah jangan banyak tanya. Cepat buka celanamu.”

Roni tak dapat berpikir jernih. Semua ini serba mendadak dan begitu membingungkan. Terdiam.

“Ayo, tunggu apalagi sih kamu? Aku udah horny nih..” Laras mendorong Roni ke atas ranjang. Mereka mulai berciuman. Ranjang pun mulai berderit. Tak lama terdengar suara erangan dan rintihan dari kamar itu. Diakhiri oleh suara teriakan yang panjang. Lukisan wanita penari Bali menjadi saksi bisu perbuatan mereka. Malam itu mereka melakukan ‘permainan terhebat sepanjang masa’ hingga terlelap.

***
Keesokan paginya..

Suara gaduh di kamar sebelah membangunkan Roni dari tidurnya. Masih di dalam kamarnya, pikirannya masih melayang. Semalam adalah pengalaman terhebat selama hidupnya. Dia belum pernah merasakan gairah sekuat itu. Tetapi ada sesuatu yang hilang dari kamar itu. Laras telah pergi. Entah sedari kapan. Laras meninggalkan Roni tanpa sepatah kata setelah apa yang mereka perbuat semalam.

Roni segera mengenakan pakaian seadanya, lalu keluar dari kamar itu. Terlihat nomor kamar yang menempel di pintu. “14266? Gila. Efek semalem masih ada sampe sekarang.” Kata Roni sembari berjalan ke arah lift.

Roni memperhatikan keadaan sekitar sambil menunggu lift terbuka. “Berisik banget sih pagi ini? Biasanya lantai ini kan selalu sepi.” Kata Roni dalam hati ketika melihat anak-anak kecil saling berkejaran, petugas room service yang sedang membersihkan kamar sebelah. Dan beberapa tamu hotel yang sedang bercakap-cakap.

Akhirnya lift itu sampai di lantai Roni berada. Indikator menunjukkan angka 14. “14? Ini kan seharusnya lantai 13. Rusak kali ya ini lift?” Roni menggunyam. Dia pun melangkah masuk ke dalam lift. Beberapa tamu ikut masuk ke dalam lift itu.

“Lantai berapa, Mas?” Tanya Roni kepada para tamu.

“Ke lobby, Mas.” Seorang pria berkacamata menjawab. Roni pun menekan huruf L.

“Aku mau main ke kamar saudaraku, kak. Tolong ya ke lantai 7.” Kali ini seorang anak kecil menjawab. Angka 7 ditekan oleh Roni.

“Tolong ke lantai 12, Mas. Terima kasih.” Kata seorang ibu cantik. Roni menekan angka 12, lift pun turun mengikuti gravitasi bumi. Roni. menyadari ada yang sedikit janggal dari urutan lift itu. Angka 14 di indikator langsung loncat ke angka 12.

“Lho? 13 ke mana? Kok gak ada?” Tanya Roni dalam hati. Matanya spontan melacak tombol deretan angka di dalam lift. Dia tidak dapat menemukan angka 13 di sana. Pikiran negatif mulai merasuki kepalanya. Terutama kata-kata Roy sesaat sebelum
Roni meninggalkannya untuk bertemu Laras.

Sesampainya di Lobby. Roni berlari ke ruang janitor untuk menemui Pak Wardiman. Petugas kebersihan Hotel Amalia yang sudah bekerja di sana selama puluhan tahun.

“Pak Wardiman!” Teriak Roni.

“Eh, ada nak Roni. Tumben kamu ke sini. Ada apa?” Seorang pria paruh baya menyambut Roni dengan ramah.

“Aku mengalami kejadian aneh nih, Pak. Aku mau tanya. Sebenarnya di hotel ini ada lantai 13 gak sih? Terus kalau kamar 13266 itu ada atau nggak?” Roni tak dapat menyembunyikan kepanikannya.

“Lantai 13? Kamar 13266? Waduh. Pasti nak Roni selama enam hari kemarin digodain sama non Laras ya?”

“Iya, Pak. Bapak kok tahu Laras? Dia itu siapa Pak sebenarnya? Semalam aku tidur bareng dia di kamar 13266 lantai 13. Tapi pagi ini dia tiba-tiba hilang tanpa kabar. Terus barusan aku turun dari lift kok gak ada angka 13 di deretan tombolnya ya Pak? Bingung aku.” Roni menjelaskan kejadian yang baru saja dialaminya.

“Aih, jadi kamu toh korban non Laras tahun ini. Aku kasih tahu kamu nih nak Roni. Non Laras itu sudah meninggal. Sudah dari 18 tahun lalu.”

Petir seakan menyambar tubuh Roni. Wajahnya mendadak pucat pasi. Lidahnya kelu. Tetapi dia tetap memaksakan diri untuk berbicara. “Ma.. Maksud Bapak gimana? Sudah meninggal? Gak mungkin ah Pak. Jangan bercanda yang gak lucu ah.”

“Aku ndak bercanda kok nak Roni. Non Laras itu sudah meninggal. Dia terjun dari lantai 13. Nomor kamarnya 13266. Kejadiannya itu tanggal 31 Oktober 1992. Jadi, non Laras situ bunuh diri gara-gara suaminya selingkuh. Nah, terus dia nginep di hotel ini selama 6 hari. Setiap harinya non Laras selalu membawa lelaki yang berbeda. Kalau dihitung totalnya ada 6 orang jumlahnya.” Jelas Pak Wardiman.

“Te.. Teruskan ceritanya, Pak.” Roni tak percaya dirinya meminta Pak Wardiman meneruskan cerita tentang non Laras. Bulu kuduknya berdiri. Tubuhnya dibasahi oleh keringat dingin.

“Iya, Jadi non Laras nginep dari tanggal 25-31 Oktober 1992. Nah, malam terakhirnya itu dia terjun dari jendela kamar 13266. Sekarang sih kamarnya masih ada, tapi jadi 14266. Angka 13 di lift juga sengaja diloncat langsung ke angka 14. Soalnya kata orang pinter angka itu bawa sial.”

Roni diam mendengarkan. Mukanya kini seputih kertas kosong. Sementara Pak Wardiman keasyikan bercerita.

“Ini bukan pertama kalinya terjadi kok. Setiap 6 tahun sekali non Laras pasti datang ke hotel ini mencari pria muda. Selain itu, kalau diperhatikan pasti ada petunjuk yang berbau angka 6. Nomor kamarnya kalo dijumlah jadi 666. Non Laras tidur dengan 6 Pria. Biasanya waktu dia menghubungi para lelakinya pasti ada unsur 6. 12 tahun lalu yang mengalami kejadian ini adalah seorang pengusaha muda. 6 tahun lalu ada seorang pemuda tampan, atlet kalo saya nggak salah. Nah, tahun ini mungkin giliran nak Roni. Sudah ya nak Roni. Bapak harus bekerja dulu. Sering-sering main ke ruangan Bapak ya.”

Sekali lagi petir seakan menyambar tubuh Roni. Dia tak menjawab Pak Wardiman. Dirinya terguncang mendengar cerita Pak Wardiman. Masih setengah percaya. Roni merogoh sakunya. Jarinya dengan cepat mencari nama Laras di kontak teleponnya. Tidak ada seorang pun yang bernama Laras. Dia meluncur ke inbox, memeriksa folder SMS atas nama Laras. Tak ada satu pun folder khusus. Roni diam membeku. Dan hujan pun turun membasahi bumi.