Hari ini, kutemukan kedamaian
Ketika kubuka kedua mata,
menemukan langit biru terbentang luas
dihiasi buih ombak di batas cakrawala..
Tak ada raungan si kuda besi,
yang ada hanya bunyi pasir yang berdesir..
Tak ada kepulan asap hitam,
tergantikan oleh gumpalan kapas putih di atas langit..
Debur ombak menjadi nyanyian pagi, bersinergi dengan kicau burung yang terbang bebas..
Tawa anak kecil menjadi pengisi hati, menghangatkan hari seperti mentari pagi..
Begitu tenang,
Begitu damai.. :)
Pulau Moyo, 10 Oktober 2012 - 06:35
About Me
Tampilkan postingan dengan label Puisi/prosa/sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi/prosa/sajak. Tampilkan semua postingan
Minggu, 14 Oktober 2012
Jumat, 20 April 2012
BENALU
Kamu, seperti hantu..
Datang dan pergi mendiami ruang saru..
Kamu, seperti benalu..
Memadu pepohonan hingga layu..
Satu persatu, hingga semua menjadi abu..
Ke manakah hati yang bersih itu?
Telah hilang akar persahabatan,
Dari semua cerita yang pernah lalu..
Kosong yang ada di belakangmu,
Tak ada yang menolong jika nanti kau pun layu..
Karena kamu,
Adalah benalu..
Sabtu, 20 Agustus 2011
LIFE IS…
Life is a newborn, Life is a death
Life is a stage of drama, Life is a debt
Life is GOD, Life is sometimes good or bad
Life is a paycheck, Life is moving forward
Life is a stepping stone to immortality, Life is a regret
Life is grace, Life is human being
Life is a desire, Life is a resemblance
Life is an existence, Life is an order
Life is a dream, Life is a fake
Life is an actor with the spotlight, Life is sharp
Life is glittery, Life is sad
Life is communication, Life is sex
Life is a decision to make, Life is a risk to take
Life is a cake to bake, Life is for God sake
Life is love, Life is trust
Life is lust, Life is a must
Is it any of the words above could define what life is?
If there aren’t, then Life is a Question… (?)
Minggu, 26 September 2010
SURAT UNTUK BANDUNG
Bersih, layaknya hanya menjadi sebuah kata, tanpa makna
Jalan berlubang di seluruh penjuru kota
Banjir melanda merajalela
Pemerintah kota seakan tak punya mata
Hijau dan berbunga
Hanyalah menjadi sebuah legenda
Rimbun pepohonan kini telah sirna
Ketamakan manusia yang membuatnya tiada
Hari demi hari yang telah kau lewati kini menghantui
Hujan pun turun tanpa henti, setiap hari
Ke manakah dirimu yang dulu?
Yang menjadi tempat kami berteduh
Masa demi masa yang telah kau lalui kini beresonansi
Menjadi melodi yang menguak memori
200 tahun lamanya kau telah berdiri
Aku merindukan dirimu yang dulu di sini
Selamat ulang tahun wahai kota Bandung tercinta
Terima kasih telah membiarkan kami menjejakkan kaki di atasmu
Maaf jika kami telah melukaimu
Ini adalah suratku untukmu dari seorang anak Bandung asli
Jalan berlubang di seluruh penjuru kota
Banjir melanda merajalela
Pemerintah kota seakan tak punya mata
Hijau dan berbunga
Hanyalah menjadi sebuah legenda
Rimbun pepohonan kini telah sirna
Ketamakan manusia yang membuatnya tiada
Hari demi hari yang telah kau lewati kini menghantui
Hujan pun turun tanpa henti, setiap hari
Ke manakah dirimu yang dulu?
Yang menjadi tempat kami berteduh
Masa demi masa yang telah kau lalui kini beresonansi
Menjadi melodi yang menguak memori
200 tahun lamanya kau telah berdiri
Aku merindukan dirimu yang dulu di sini
Selamat ulang tahun wahai kota Bandung tercinta
Terima kasih telah membiarkan kami menjejakkan kaki di atasmu
Maaf jika kami telah melukaimu
Ini adalah suratku untukmu dari seorang anak Bandung asli
Rabu, 22 September 2010
TUBUHKU MEMBIRU
Aku merindukan momen itu
Ketika tangannya membelai halus rambutku
Bola matanya hangat menatap mataku
Menghantarkannya pergi ke alam mimpi
Aku merindukan saat itu
Saat tangannya enggan melepaskanku
Dekapan hangatnya yang menyelubungi tubuhku
Bahkan air liurnya yang membasahi tubuhku
Aku merindukan masa itu
Saat dirinya memperkenalkanku dengan teman-temannya
Aku selalu jadi yang pertama, kini aku dianggap tak ada
Waktulah yang jadi penjahatnya, pertambahan usia membuatnya menjadi berbeda
Teknologi telah menyingkirkanku dari hadapannya
Membawaku pergi ke dalam kotak gelap yang tak dapat ditembus cahaya
Tak ada lagi tangan yang mendekapku
Tak ada lagi hangat yang menyelimutiku
Andai aku mayat tubuhku sudah membiru
Akankah kau mengingatku lagi wahai pemilik?
Akankah kau kembali mendekapku dan membelaiku wahai pemilik?
Aku yang dulu menjadi teman setiamu, boneka kesayanganmu
Ketika tangannya membelai halus rambutku
Bola matanya hangat menatap mataku
Menghantarkannya pergi ke alam mimpi
Aku merindukan saat itu
Saat tangannya enggan melepaskanku
Dekapan hangatnya yang menyelubungi tubuhku
Bahkan air liurnya yang membasahi tubuhku
Aku merindukan masa itu
Saat dirinya memperkenalkanku dengan teman-temannya
Aku selalu jadi yang pertama, kini aku dianggap tak ada
Waktulah yang jadi penjahatnya, pertambahan usia membuatnya menjadi berbeda
Teknologi telah menyingkirkanku dari hadapannya
Membawaku pergi ke dalam kotak gelap yang tak dapat ditembus cahaya
Tak ada lagi tangan yang mendekapku
Tak ada lagi hangat yang menyelimutiku
Andai aku mayat tubuhku sudah membiru
Akankah kau mengingatku lagi wahai pemilik?
Akankah kau kembali mendekapku dan membelaiku wahai pemilik?
Aku yang dulu menjadi teman setiamu, boneka kesayanganmu
PUISI KESEPIAN
Aku terduduk di tepian sunyi
Sendiri, tak ada yang menemani
Malam yang legam seakan melahap semua cahaya
Semilir angin malam menjadi satu-satunya nada
Awan hitam bergelung di angkasa
Mendatangkan kegetiran di tengah kesepian
Mataku tak kunjung terpejam
Meski nyala lampu telah padam
Aku pun menyalakan api
Sia-sia, tak dapat menerangi
Angin malam menghembuskan nyawanya pergi
Kapankah kau akan membawa terang yang kau janjikan? Aku di sini merasa sepi

Sendiri, tak ada yang menemani
Malam yang legam seakan melahap semua cahaya
Semilir angin malam menjadi satu-satunya nada
Awan hitam bergelung di angkasa
Mendatangkan kegetiran di tengah kesepian
Mataku tak kunjung terpejam
Meski nyala lampu telah padam
Aku pun menyalakan api
Sia-sia, tak dapat menerangi
Angin malam menghembuskan nyawanya pergi
Kapankah kau akan membawa terang yang kau janjikan? Aku di sini merasa sepi

Selasa, 14 September 2010
SURAT UNTUK BUMI
Awan hitam kembali bergelung di atas langit
Hujan pun turun dengan derasnya
Kali ini tak seperti biasanya
Aku merasa lelah dengan cuaca ini
Langit pun terlihat sedih
Seakan lelah mengirimkan pasukannya untuk menurunkan hujan
Aku dapat mendengarnya mengeluh
“Sampai kapankah aku harus seperti ini?” Katanya
Entah berapa lama hujan turun tanpa henti menghantam bumi
Tak hanya air, butiran es pun turun dari langit
Bahkan sang dewa angin pun mengamuk
Menurunkan angin ribut yang bergulung membabi buta
Derai air mata terurai di balik jendela
Seorang anak menangis meratapi cuaca
“Apakah masih ada sesuatu yang disebut musim?” Tanyanya
Matahari kini datang dan pergi dengan seenaknya
Aku merindukan terik di siang hari di musim kemarau
Membeli sekotak es krim dan minuman dingin adalah solusinya
Aku merindukan dingin di musim hujan
Memakai baju hangat adalah jawabannya
Pemanasan global mulai menunjukkan dampaknya
Bukan hanya bumi tetapi kita semua yang menderita
Sampai kapankah akan terus seperti ini?
Jawabnya ada di tangan kita. Selamatkanlah bumi kita.
Didedikasikan untuk Bumi Pertiwi. Save our green!!!
Quote :
"Earth provides enough to satisfy every man's need, but not every man's greed" ~ Mahatma Gandhi
Hujan pun turun dengan derasnya
Kali ini tak seperti biasanya
Aku merasa lelah dengan cuaca ini
Langit pun terlihat sedih
Seakan lelah mengirimkan pasukannya untuk menurunkan hujan
Aku dapat mendengarnya mengeluh
“Sampai kapankah aku harus seperti ini?” Katanya
Entah berapa lama hujan turun tanpa henti menghantam bumi
Tak hanya air, butiran es pun turun dari langit
Bahkan sang dewa angin pun mengamuk
Menurunkan angin ribut yang bergulung membabi buta
Derai air mata terurai di balik jendela
Seorang anak menangis meratapi cuaca
“Apakah masih ada sesuatu yang disebut musim?” Tanyanya
Matahari kini datang dan pergi dengan seenaknya
Aku merindukan terik di siang hari di musim kemarau
Membeli sekotak es krim dan minuman dingin adalah solusinya
Aku merindukan dingin di musim hujan
Memakai baju hangat adalah jawabannya
Pemanasan global mulai menunjukkan dampaknya
Bukan hanya bumi tetapi kita semua yang menderita
Sampai kapankah akan terus seperti ini?
Jawabnya ada di tangan kita. Selamatkanlah bumi kita.
Didedikasikan untuk Bumi Pertiwi. Save our green!!!
Quote :
"Earth provides enough to satisfy every man's need, but not every man's greed" ~ Mahatma Gandhi
Senin, 13 September 2010
DI ATAS SAJADAH
Di atas sajadah itu aku berdiri.
Melafalkan Takbir, menghadap Sang Illahi.
Di atas sajadah itu aku bersimpuh.
Semua rasa amarah dan emosi pun seketika menjadi luluh.
Di atas sajadah itu aku bersujud.
Menyerahkan diri kepada satu zat yang tak berwujud.
Di atas sajadah itu aku berdoa.
Menyiratkan kata-kata mutiara diselingi untaian air mata.
Ya Allah, Ya Tuhanku.
Engkaulah Yang Maha Agung. Hanyalah pada-Mu aku mengabdi.
Ya Allah, Ya Tuhanku.
Engkaulah Yang Maha Pemaaf. Ampunilah segala kekhilafanku. Terimalah taubatku, permintaan maafku.
Ya Allah, Ya Tuhanku.
Engkaulah Yang Maha Segalanya.
Jadikanlah aku hamba-Mu yang sholeh.
Yang mampu melaksanakan segala perintah-Mu dan menjauhi semua larangan-Mu.
Inilah doaku untuk-Mu, Ya Allah.
Hanya pada-Mu aku memohon. Hanya pada-Mu aku berdoa.
Semoga nanti kita dapat berjumpa.
Ketika ajal menjemputku, terimalah aku di sisi-Mu.
Melafalkan Takbir, menghadap Sang Illahi.
Di atas sajadah itu aku bersimpuh.
Semua rasa amarah dan emosi pun seketika menjadi luluh.
Di atas sajadah itu aku bersujud.
Menyerahkan diri kepada satu zat yang tak berwujud.
Di atas sajadah itu aku berdoa.
Menyiratkan kata-kata mutiara diselingi untaian air mata.
Ya Allah, Ya Tuhanku.
Engkaulah Yang Maha Agung. Hanyalah pada-Mu aku mengabdi.
Ya Allah, Ya Tuhanku.
Engkaulah Yang Maha Pemaaf. Ampunilah segala kekhilafanku. Terimalah taubatku, permintaan maafku.
Ya Allah, Ya Tuhanku.
Engkaulah Yang Maha Segalanya.
Jadikanlah aku hamba-Mu yang sholeh.
Yang mampu melaksanakan segala perintah-Mu dan menjauhi semua larangan-Mu.
Inilah doaku untuk-Mu, Ya Allah.
Hanya pada-Mu aku memohon. Hanya pada-Mu aku berdoa.
Semoga nanti kita dapat berjumpa.
Ketika ajal menjemputku, terimalah aku di sisi-Mu.
Kamis, 09 September 2010
SURAT UNTUK LEBARAN
Yang kurindukan adalah ketika kemacetan menjadi satu tradisi.
Di balik kaca mobil saling menebarkan senyuman, senyum kemenangan.
Yang kurindukan adalah kue keju, nastar, sagu, apa pun namanya.
Mereka berteman baik denganku di hari itu.
Yang kurindukan adalah masakan khas setiap tetangga.
Saling bersilaturahmi sembari mencicipi hidangan yang disediakan.
Yang kurindukan adalah ketika ponselku tak henti-hentinya berbunyi.
Semua kontak di ponselku menyampaikan maafnya.
Yang kurindukan adalah gema takbir yang berkumandang dari setiap penjuru kota.
Menusuk gendang telingaku, membangkitkan keimananku.
Yang kurindukan adalah ketika berkumpul dengan sanak saudara.
Bercanda, tertawa, terkadang pertengkaran kecil, saling berbagi kebahagiaan.
Yang kurindukan adalah aku, kedua kakakku, dan kedua orang tuaku saling berpelukan dalam tangis kemenangan.
Ya, inilah hari itu. Hari kemenanganku. Hari kemenangan kita semua.
Selamat datang wahai Lebaran. Ini adalah suratku untukmu.
Di balik kaca mobil saling menebarkan senyuman, senyum kemenangan.
Yang kurindukan adalah kue keju, nastar, sagu, apa pun namanya.
Mereka berteman baik denganku di hari itu.
Yang kurindukan adalah masakan khas setiap tetangga.
Saling bersilaturahmi sembari mencicipi hidangan yang disediakan.
Yang kurindukan adalah ketika ponselku tak henti-hentinya berbunyi.
Semua kontak di ponselku menyampaikan maafnya.
Yang kurindukan adalah gema takbir yang berkumandang dari setiap penjuru kota.
Menusuk gendang telingaku, membangkitkan keimananku.
Yang kurindukan adalah ketika berkumpul dengan sanak saudara.
Bercanda, tertawa, terkadang pertengkaran kecil, saling berbagi kebahagiaan.
Yang kurindukan adalah aku, kedua kakakku, dan kedua orang tuaku saling berpelukan dalam tangis kemenangan.
Ya, inilah hari itu. Hari kemenanganku. Hari kemenangan kita semua.
Selamat datang wahai Lebaran. Ini adalah suratku untukmu.
Rabu, 16 Desember 2009
Jiwa Yang Tersesat

Lama tak kurasakan kebahagiaan
Saat panas mengikis kulit yang menyelimuti ragaku
Dan dingin menusuk tajam ke dalam sumsum tulangku
Hatiku pun merintih perih
Lama tak kurasakan gelora yang bergemuruh di dalam dada
Ketika tak lagi kurasakan amarah
Ataupun perasaan suka duka
Emosiku telah sirna
Lama tak kurasakan kedamaian
Ketika yang tersisa hanyalah kehampaan
Disertai rinai hujan membasahi tanah sang tuan
Seakan mengasihani seorang manusia yang terbuang
Tuhan yang dulu selalu menyertai langkahku pun seolah pergi meninggalkan
Suara adzan yang berkumandang tak lagi menggetarkan hatiku
Ketika kudengar lafal Takbir aku hanya terdiam
Ketika kudengar asma Allah aku hanya membisu
Aku.. Tak tahu siapa diriku sekarang
Seperti sebuah titik kecil di atas langit yang berbintang
Layaknya seekor impun yang dilepas di samudera luas yang membentang
Seorang makhluk yang tersesat di persimpangan jalan
Aku bukanlah Tuhan yang memiliki kuasa
Aku bukanlah setan yang sedang menjelma
Aku bukanlah hewan ataupun tumbuhan yang masih bernyawa
Tetapi aku juga bukanlah manusia
Aku telah kehilangan jalan hidupku
Aku telah kehilangan denyut nadiku
Aku telah kehilangan akal sehatku
Aku telah kehilangan hati nuraniku
Akankah ada yang akan menunjukkanku jalan kebenaran?
Akankah ada yang akan memberikanku arti kehidupan?
Akankah ada yang akan memaksa emosiku agar meluap?
Akankah ada yang akan membuat hati kecilku kembali bercahaya?
Kepada aku yang hampa ini
Kepada aku yang seakan tak bernyawa ini
Kepada aku yang tak bermakna ini
Kepada aku.. JIWA YANG TERSESAT
Selasa, 01 Desember 2009
Dedariku : Gitar Tak Berdawai
Seonggok gitar tua terpatri di sudut ruang kamarku
Terdiam menatapku tajam, seolah memanggilku untuk memainkannya
Seonggok gitar tua terpatri di sudut ruang kamarku
Memainkan melodi-melodi ritmik, melambungkan khayalku tinggi ke angkasa
Dan aku pun beranjak mendekatinya
Seolah tersihir oleh nada-nada magis di dalamnya
Memanjakan telingaku setiap ku mendengarnya
Aku pun merasa bahagia dibuatnya
Bumi beserta isinya menari diiringi alunan melodi
Bunyi daun gemerisik yang seakan berbisik-bisik
Kicauan burung bernyanyi mengikuti alunan melodi
Mengisi ruang hati dan menggetarkan emosi di dalam diri
Namun kebahagiaan itu telah sirna
Ketika sang dedari kehilangan dawainya
Bahagia telah berganti menjadi duka
Seakan aku telah kehilangan nyawa
Rinai hujan turun membasahi bumi ini
Mengeluarkan aroma magis di setiap tetes airnya
Mengiris perih hatiku yang hampa ini
Memaksaku mengeluarkan air mata duka
Gitarku tak lagi memiliki dawainya
Aku pun seolah menjadi manusia tak bernyawa
Gitarku tak lagi memainkan nada suaranya
Dan aku pun tak lagi memiliki hati yang bersuka-cita
Aku merindukan nada-nada magisnya, seketika pun aku menangis dibuatnya
Aku merindukan alunan melodi ritmiknya, seketika pun aku merasa seperti tercekik dibuatnya
Aku merindukan gitarku dan dawainya, yang membuat diriku menjadi manusia yang bernyawa
Wahai Gitarku, Hidupku, Kekasihku..
*Inspired by : Dewa Budjana - Dedariku (Gitarku, Hidupku, Kekasihku)
Minggu, 01 November 2009
Cinta Sang Purnama
Malam ini.. Malam yang indah..
Mendamaikan hati, mendatangkan mimpi..
Hanya ada aku di sisi jalan ini..
Aku yang sendiri tapi tak merasa sepi..
Kutengadahkan kepala menuju satu titik di angkasa..
Kulihat bintang-bintang bertebaran di langit sana..
Cantik sang bulan memamerkan sinarnya..
Cahaya anggun keperakan sang purnama membagikan cintanya..
Serangga malam pun bernyanyi menikmati malam ini..
Dan aku mulai menari mengikuti alunan melodi..
Angin malam berhembus menggoda anganku..
Dan dengan tulus kulambungkan khayalku..
Awan-awan pun sedang berkelana..
Menyampaikan suatu cerita..
Kepada seorang manusia..
Tentang cinta sang purnama..
Oh Tuhan..
Bulan ini bulan yang baru..
Yang akan menjadi awal dari langkahku..
Mengarungi samudera hidupku..
Mendamaikan hati, mendatangkan mimpi..
Hanya ada aku di sisi jalan ini..
Aku yang sendiri tapi tak merasa sepi..
Kutengadahkan kepala menuju satu titik di angkasa..
Kulihat bintang-bintang bertebaran di langit sana..
Cantik sang bulan memamerkan sinarnya..
Cahaya anggun keperakan sang purnama membagikan cintanya..
Serangga malam pun bernyanyi menikmati malam ini..
Dan aku mulai menari mengikuti alunan melodi..
Angin malam berhembus menggoda anganku..
Dan dengan tulus kulambungkan khayalku..
Awan-awan pun sedang berkelana..
Menyampaikan suatu cerita..
Kepada seorang manusia..
Tentang cinta sang purnama..
Oh Tuhan..
Bulan ini bulan yang baru..
Yang akan menjadi awal dari langkahku..
Mengarungi samudera hidupku..
Di Balik Tenda
Di kala Tuhan murka
Dia menunjukkan kuasanya
Bumi berguncang dengan kerasnya
Membelah tanah, menggetarkan jiwa
Di kala Tuhan murka
Manusia tak kan pernah berdaya
Meruntuhkan rumah beserta isinya
Mendatangkan duka dan lara
Anak-anak berteriak dengan kerasnya
Orang tua tak tahu harus berbuat apa
Mereka hanya saling bertatap muka
Menyaksikan rumahnya yang sirna
Hewan-hewan berlarian tanpa henti
Seakan dikecam rasa takut akan mati
Alam pun hanya menjadi saksi
Atas keagungan Tuhan kami
Ya Tuhan..
Apa yang telah kami perbuat sehingga Engkau marah?
Apakah kami telah melupakan-Mu?
Melalaikan tugas yang telah Engkau berikan kepada kami?
Rumah mewah dan bangunan yang megah
Kini telah berubah menjadi puing-puing
Manusia yang berkumpul di tengah sawah
Memperdengarkan suara tangis yang melengking
Mereka telah kehilangan hartanya, tempat tinggalnya
Digantikan oleh sebuah tenda
Mereka telah kehilangan sanak saudaranya, dan orang-orang yang dicintainya
Tak akan ada satu pun hal yang dapat menggantikannya
Angin berhembus di balik puing reruntuhan
Awan hitam kelam menyelimuti langit
Matahari seakan enggan memberi sinar terang
Yang ada hanyalah angin dingin yang menusuk kulit
Sinar bulan yang temaram
Debur ombak yang memecah karang
Manusia pun hanya terdiam
Menatap langit tak berbintang
Di balik tenda itu mereka bernaung, diliputi gema tangisan yang menggaung
Di balik tenda itu mereka terlelap, saat terang berubah menjadi gelap
Di balik tenda itu mereka mengadu, dan menangis tersedu-sedu
Di balik tenda itu mereka terdiam, sedang menantikan secuil harapan
Kubuka mata, hati, dan telinga, mendapatkan suatu cerita duka
Kulangkahkan kaki menuju sana, untuk menjadi pelipur lara
Kuulurkan tangan untuk mereka, meringankan beban derita
Kupanjatkan doa kepada-Nya, dan memohon ampunan-Nya
*dedicated to*
Semua saudara-saudaraku yang terkena musibah gempa..
Dia menunjukkan kuasanya
Bumi berguncang dengan kerasnya
Membelah tanah, menggetarkan jiwa
Di kala Tuhan murka
Manusia tak kan pernah berdaya
Meruntuhkan rumah beserta isinya
Mendatangkan duka dan lara
Anak-anak berteriak dengan kerasnya
Orang tua tak tahu harus berbuat apa
Mereka hanya saling bertatap muka
Menyaksikan rumahnya yang sirna
Hewan-hewan berlarian tanpa henti
Seakan dikecam rasa takut akan mati
Alam pun hanya menjadi saksi
Atas keagungan Tuhan kami
Ya Tuhan..
Apa yang telah kami perbuat sehingga Engkau marah?
Apakah kami telah melupakan-Mu?
Melalaikan tugas yang telah Engkau berikan kepada kami?
Rumah mewah dan bangunan yang megah
Kini telah berubah menjadi puing-puing
Manusia yang berkumpul di tengah sawah
Memperdengarkan suara tangis yang melengking
Mereka telah kehilangan hartanya, tempat tinggalnya
Digantikan oleh sebuah tenda
Mereka telah kehilangan sanak saudaranya, dan orang-orang yang dicintainya
Tak akan ada satu pun hal yang dapat menggantikannya
Angin berhembus di balik puing reruntuhan
Awan hitam kelam menyelimuti langit
Matahari seakan enggan memberi sinar terang
Yang ada hanyalah angin dingin yang menusuk kulit
Sinar bulan yang temaram
Debur ombak yang memecah karang
Manusia pun hanya terdiam
Menatap langit tak berbintang
Di balik tenda itu mereka bernaung, diliputi gema tangisan yang menggaung
Di balik tenda itu mereka terlelap, saat terang berubah menjadi gelap
Di balik tenda itu mereka mengadu, dan menangis tersedu-sedu
Di balik tenda itu mereka terdiam, sedang menantikan secuil harapan
Kubuka mata, hati, dan telinga, mendapatkan suatu cerita duka
Kulangkahkan kaki menuju sana, untuk menjadi pelipur lara
Kuulurkan tangan untuk mereka, meringankan beban derita
Kupanjatkan doa kepada-Nya, dan memohon ampunan-Nya
*dedicated to*
Semua saudara-saudaraku yang terkena musibah gempa..
Sabtu, 24 Oktober 2009
Risalah Hati
Aku terduduk di teras rumahku,
Terhanyut dalam lamunanku..
Angin lembut berhembus menggerayangi tubuhku,
Sang rumput pun menari mengarungi siangku..
Matahari menerangi siangku tak jemu-jemu,
Kicauan burung bernyanyi menjadi lagu hidupku..
Ah, tapi mengapa aku merasa begitu pilu?
Seakan ada yang hilang dari dekapanku,
Terpatri di sudut ruang hatiku yang syahdu..
Huff..
Aku pun menghela napas..
Sebagai wujud dari penyesalan tak berbatas..
Suatu cinta yang tak terbalas..
Serentak pasukan awan hitam pun datang,
Bertempur melawan sang mentari,
Menutupi cahayanya yang menerangi bumi..
Dan kemudian langit menangis,
Hatiku pun terasa begitu miris..
Tetes demi tetes air surga turun membasahi dunia,
Seakan menemani diriku yang sedang bermuram durja..
Kilatan cahaya di angkasa,
Membuat hatiku semakin tak kuasa..
Suara petir yang menggelegar,
Membuat mataku berbinar-binar..
Air mata pun mulai berlinang,
Bagaikan langit yang membentang bertaburkan bintang..
Kemudian..
Langit kelabu mulai berubah menjadi biru,
Matahari pun muncul membuka lembaran baru..
Aroma tanah basah merasuki hidungku,
Begitu menenangkan hatiku yang pilu..
Pelangi datang menghampiri,
Memberikan suatu energi dalam diri..
Huff..
Kuhela napasku panjang,
Bukan untuk mengasihani diriku yang malang,
Melainkan sebagai wujud siagaku menghadapi hidup yang masih panjang..
Huff..
Kuhela napasku dengan berat,
Bukan untuk menghadapi beban hidup yang membebat,
Melainkan sebagai wujud energi dalam diri yang begitu hebat..
Dan aku pun mulai berdiri,
Setapak demi setapak kakiku melangkah dengan pasti,
Untuk menghadapi ketakutan dalam diri..
Dan aku pun mulai berdiri,
Tak akan mungkin aku undur diri,
Untuk menghadapi kerasnya dunia ini..
Karena kini aku tak sendiri,
Ditemani cahaya sang mentari..
Karena kini aku tak sendiri,
Dilindungi oleh Illahi Rabbi..
Karena kini aku tak sendiri,
Telah menemukan kepingan hati..
Terhanyut dalam lamunanku..
Angin lembut berhembus menggerayangi tubuhku,
Sang rumput pun menari mengarungi siangku..
Matahari menerangi siangku tak jemu-jemu,
Kicauan burung bernyanyi menjadi lagu hidupku..
Ah, tapi mengapa aku merasa begitu pilu?
Seakan ada yang hilang dari dekapanku,
Terpatri di sudut ruang hatiku yang syahdu..
Huff..
Aku pun menghela napas..
Sebagai wujud dari penyesalan tak berbatas..
Suatu cinta yang tak terbalas..
Serentak pasukan awan hitam pun datang,
Bertempur melawan sang mentari,
Menutupi cahayanya yang menerangi bumi..
Dan kemudian langit menangis,
Hatiku pun terasa begitu miris..
Tetes demi tetes air surga turun membasahi dunia,
Seakan menemani diriku yang sedang bermuram durja..
Kilatan cahaya di angkasa,
Membuat hatiku semakin tak kuasa..
Suara petir yang menggelegar,
Membuat mataku berbinar-binar..
Air mata pun mulai berlinang,
Bagaikan langit yang membentang bertaburkan bintang..
Kemudian..
Langit kelabu mulai berubah menjadi biru,
Matahari pun muncul membuka lembaran baru..
Aroma tanah basah merasuki hidungku,
Begitu menenangkan hatiku yang pilu..
Pelangi datang menghampiri,
Memberikan suatu energi dalam diri..
Huff..
Kuhela napasku panjang,
Bukan untuk mengasihani diriku yang malang,
Melainkan sebagai wujud siagaku menghadapi hidup yang masih panjang..
Huff..
Kuhela napasku dengan berat,
Bukan untuk menghadapi beban hidup yang membebat,
Melainkan sebagai wujud energi dalam diri yang begitu hebat..
Dan aku pun mulai berdiri,
Setapak demi setapak kakiku melangkah dengan pasti,
Untuk menghadapi ketakutan dalam diri..
Dan aku pun mulai berdiri,
Tak akan mungkin aku undur diri,
Untuk menghadapi kerasnya dunia ini..
Karena kini aku tak sendiri,
Ditemani cahaya sang mentari..
Karena kini aku tak sendiri,
Dilindungi oleh Illahi Rabbi..
Karena kini aku tak sendiri,
Telah menemukan kepingan hati..
Jumat, 23 Oktober 2009
Lembayung Biru
Seonggok besi tua itu berdiri dengan tegak,
Menjadi tempat bernaung burung-burung gagak,
Membicarakan apa yang akan terjadi suatu hari nanti kelak..
Seonggok besi tua itu melebarkan tangannya,
Menjadi tempat berteduh kami para manusia,
Melindungi kami dari sang mentari dan sinar panasnya..
Seonggok besi tua itu berwarna biru,
Menjadi lembayung biru tempat kami berseteru,
Mendengarkan cerita kami yang haru,
Memperhatikan tangisan kami yang sendu..
Ah, Aku pun terlarut dalam duka,
Besi tua itu kini telah tiada,
Tempat kami bersuka cita,
Ataupun sedang dirundung durja..
Tangan pemerintah telah menumbangkan kegagahannya,
Merenggut apa yang kami cintai..
Tangan pemerintah telah menghapus jejaknya,
Merampas apa yang kami anggap menjadi milik kami..
Lembayung biru yang menjadi teman di siang hari,
Kini cahayamu telah sirna..
Dan menjadi penjaga rumah kami di malam hari,
Meninggalkan kami untuk selamanya..
Akankah kami dapat menemuimu?
Kami sangat merindukan kehadiranmu..
Wahai Lembayung Biruku..
Menjadi tempat bernaung burung-burung gagak,
Membicarakan apa yang akan terjadi suatu hari nanti kelak..
Seonggok besi tua itu melebarkan tangannya,
Menjadi tempat berteduh kami para manusia,
Melindungi kami dari sang mentari dan sinar panasnya..
Seonggok besi tua itu berwarna biru,
Menjadi lembayung biru tempat kami berseteru,
Mendengarkan cerita kami yang haru,
Memperhatikan tangisan kami yang sendu..
Ah, Aku pun terlarut dalam duka,
Besi tua itu kini telah tiada,
Tempat kami bersuka cita,
Ataupun sedang dirundung durja..
Tangan pemerintah telah menumbangkan kegagahannya,
Merenggut apa yang kami cintai..
Tangan pemerintah telah menghapus jejaknya,
Merampas apa yang kami anggap menjadi milik kami..
Lembayung biru yang menjadi teman di siang hari,
Kini cahayamu telah sirna..
Dan menjadi penjaga rumah kami di malam hari,
Meninggalkan kami untuk selamanya..
Akankah kami dapat menemuimu?
Kami sangat merindukan kehadiranmu..
Wahai Lembayung Biruku..
Seruling Bambu
Seruling bambu itu beradu.
Beradu dengan kerasnya persaingan di kota besar demi kelangsungan hidupnya.
Seruling bambu itu beradu.
Beradu dengan mulut seorang pria paruh baya di sisi jalan ibukota.
Seruling bambu itu beradu.
Beradu dengan hiruk pikuk kendaraan bermotor diperempatan jalan.
Seruling bambu itu beradu.
Beradu dengan hembusan angin yang tertiup menyelinap di dalamnya memperdengarkan nyanyian indah dari tanah Sunda.
Dan aku pun mengadu.
Mengadu kakiku berkeliling menjajaki kendaraan yang sedang berhenti di bawah lampu merah.
Dan aku pun mengadu.
Mengadu nasibku mencari sekeping uang logam pemberian orang lain demi sesuap nasi yang lama tak kurasakan.
Ah, beginilah nasibku.
Nasib seorang pemain seruling bambu.
Memainkan nada-nada pilu tak jemu-jemu.
Dan kemudian seseorang membuka kaca mobilnya.
Mengulurkan tangannya padaku memberi sekeping uang logam harapanku.
Alhamdulillah...
Aku panjatkan syukur kepada Illahi Rabbi atas apa yang telah kuperoleh hari ini.
Aku mengucap Doa kepada Sang Pencipta atas bantuannya yang disalurkan melalui hamba-hamba-Nya.
Dan aku meminta keselamatan bagi hamba-Nya itu.
Seruling bambuku pun kembali beradu.
Sebagai wujud dari rasa syukurku pada-Mu.
Seruling bambuku pun kembali beradu.
Memperdengarkan nada-nada pilu tak jemu-jemu.
Wujud rasa sedihku atas kelakuan hamba-hamba-Mu.
Hamba-Mu yang seringkali aku lihat tak mensyukuri apa yang telah Engkau berikan pada mereka.
Hamba-Mu yang seringkali melupakan diri-Mu setelah apa yang telah Engkau lakukan untuk mereka.
Hamba-Mu yang kini mendapat cobaan bertubi-tubi, sebagai wujud rasa marah-Mu.
Seruling bambu itu pun membisu.
Namun tetap memperdengarkan nada-nada pilu.
Nada-nada pilu berupa tangisan dari hamba-hamba-Mu.
Seruling bambu itu pun membisu.
Merubah wujudnya menjadi abu.
Di tengah-tengah keharuan yang syahdu.
Dan aku pun membisu.
Menyusul seruling bambuku.
Selamat tinggal duniaku.
(Terima kasih untuk pria peniup seruling bambu di sekitar lampu lalu lintas pasteur yang selalu mensyukuri apa yang telah ia peroleh dan membacakan doa keselamatan untukku. Lama tak kulihat dirimu.)
Beradu dengan kerasnya persaingan di kota besar demi kelangsungan hidupnya.
Seruling bambu itu beradu.
Beradu dengan mulut seorang pria paruh baya di sisi jalan ibukota.
Seruling bambu itu beradu.
Beradu dengan hiruk pikuk kendaraan bermotor diperempatan jalan.
Seruling bambu itu beradu.
Beradu dengan hembusan angin yang tertiup menyelinap di dalamnya memperdengarkan nyanyian indah dari tanah Sunda.
Dan aku pun mengadu.
Mengadu kakiku berkeliling menjajaki kendaraan yang sedang berhenti di bawah lampu merah.
Dan aku pun mengadu.
Mengadu nasibku mencari sekeping uang logam pemberian orang lain demi sesuap nasi yang lama tak kurasakan.
Ah, beginilah nasibku.
Nasib seorang pemain seruling bambu.
Memainkan nada-nada pilu tak jemu-jemu.
Dan kemudian seseorang membuka kaca mobilnya.
Mengulurkan tangannya padaku memberi sekeping uang logam harapanku.
Alhamdulillah...
Aku panjatkan syukur kepada Illahi Rabbi atas apa yang telah kuperoleh hari ini.
Aku mengucap Doa kepada Sang Pencipta atas bantuannya yang disalurkan melalui hamba-hamba-Nya.
Dan aku meminta keselamatan bagi hamba-Nya itu.
Seruling bambuku pun kembali beradu.
Sebagai wujud dari rasa syukurku pada-Mu.
Seruling bambuku pun kembali beradu.
Memperdengarkan nada-nada pilu tak jemu-jemu.
Wujud rasa sedihku atas kelakuan hamba-hamba-Mu.
Hamba-Mu yang seringkali aku lihat tak mensyukuri apa yang telah Engkau berikan pada mereka.
Hamba-Mu yang seringkali melupakan diri-Mu setelah apa yang telah Engkau lakukan untuk mereka.
Hamba-Mu yang kini mendapat cobaan bertubi-tubi, sebagai wujud rasa marah-Mu.
Seruling bambu itu pun membisu.
Namun tetap memperdengarkan nada-nada pilu.
Nada-nada pilu berupa tangisan dari hamba-hamba-Mu.
Seruling bambu itu pun membisu.
Merubah wujudnya menjadi abu.
Di tengah-tengah keharuan yang syahdu.
Dan aku pun membisu.
Menyusul seruling bambuku.
Selamat tinggal duniaku.
(Terima kasih untuk pria peniup seruling bambu di sekitar lampu lalu lintas pasteur yang selalu mensyukuri apa yang telah ia peroleh dan membacakan doa keselamatan untukku. Lama tak kulihat dirimu.)
Nyanyian Merdu Alam
Pagi telah datang,
Diiringi nyanyian dari sang alam..
Rona merah sang mentari,
Menggelitik kulitku setengah mati..
Kicauan merdu burung di atas sana,
Diriku pun melambung ke angkasa..
Gemerisik daun yang menari,
Menusuk gendang telinga dan menenangkan suasana hati..
Air mengalir menuju hilir,
Diriku pun melafalkan takbir..
Allahu Akbar..
Alangkah indahnya hari ini..
Dan aku pun mengucap,
Selamat Pagi..
Diiringi nyanyian dari sang alam..
Rona merah sang mentari,
Menggelitik kulitku setengah mati..
Kicauan merdu burung di atas sana,
Diriku pun melambung ke angkasa..
Gemerisik daun yang menari,
Menusuk gendang telinga dan menenangkan suasana hati..
Air mengalir menuju hilir,
Diriku pun melafalkan takbir..
Allahu Akbar..
Alangkah indahnya hari ini..
Dan aku pun mengucap,
Selamat Pagi..
Senin, 12 Oktober 2009
Kebangkitanku
Aku terduduk di depan layar komputerku ditemani oleh secangkir kopi hitam dan kipas angin yang tak kunjung henti sejak siang tadi.
Jari jemariku begitu terampil memperlihatkan tarian eksotis di atas keyboard meliuk-liuk kesana kemari.
Hujan rintik yang mendadak membasahi malamku menjadi pelengkap hari ini.
"Ya! Benar! Hari ini adalah hari kebangkitanku! Hari dimana aku akan memulai menulis", ucapku dalam hati.
Semoga dengan hadirnya suatu tulisan yang sederhana ini, aku akan mampu menciptakan suatu tulisan hebat yang menggugah para pembaca.
Jari jemariku begitu terampil memperlihatkan tarian eksotis di atas keyboard meliuk-liuk kesana kemari.
Hujan rintik yang mendadak membasahi malamku menjadi pelengkap hari ini.
"Ya! Benar! Hari ini adalah hari kebangkitanku! Hari dimana aku akan memulai menulis", ucapku dalam hati.
Semoga dengan hadirnya suatu tulisan yang sederhana ini, aku akan mampu menciptakan suatu tulisan hebat yang menggugah para pembaca.
Jumat, 02 Oktober 2009
When A Desire Drive You Away
"Deng. Deng. Deng. Deng. Deng. Deng. Deng. Deng. Deng. Deng. Deng. Deng"
Suara jam dinding kayu tua memecah keheningan malam rumahku menunjukkan waktu sudah jam 12 malam.
Dan di sinilah aku berada. Di pojok kamarku yang berantakan, terduduk diam lemas tak berdaya.
Aku memeluk lututku erat sembari menggerakkan tubuhku dengan harapan itu dapat menghilangkan kegundahanku.
Mengapa !?
Mengapa semua ini terjadi !?
Kesalahan apa yang telah aku perbuat !?
Apakah kesalahku itu begitu besar sampai-sampai aku menjadi seperti ini !?
S u n y i . .
S e n y a p . .
d a n S e p i . .
Hanya itulah yang ku peroleh ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut terus menghantui pikiranku dan menggerogoti jiwaku.
Dan aku pun beranjak menuju teras rumahku didampingin oleh sebatang teman setiaku.
Aku terduduk diam memandangi gelapnya langit tak berbintang dan bulan yang lenyap ditelan oleh awan.
H u f f . .
Aku hanya bisa menghela napasku tanpa menghiraukan abu rokok yang berjatuhan mengotori lantai teras rumahku.
H u f f . .
Aku hanya bisa menghela napasku tanpa henti di kesedihan malam dan kesendirianku.
H u f f . .
Aku hanya bisa menghela napasku memikirkan betapa bodohnya diriku ini dan menyesal atas apa yang telah ku perbuat beberapa saat lalu.
Ya. Benar kawan. Aku menyesal, sangat menyesal. Usahaku selama ini digagalkan oleh nafsu sesaat yang menguasai diriku.
Aku menyesal karena aku tidak tidur lebih cepat malam ini dan lebih memilih untuk menonton acara televisi yang sama sekali tidak menghibur.
Aku menyesal karena membiarkan diriku dikuasai oleh nafsu belaka.
Aku menyesal karena telah menghabiskan satu kotak cokelat Cadbury Dairy Milk seorang diri dan menggagalkan dietku hari ini.
*Huahahahahahaha. Cheers buat kalian yg udah baca note ini dan merasa tertipu. Hihihi :D
Suara jam dinding kayu tua memecah keheningan malam rumahku menunjukkan waktu sudah jam 12 malam.
Dan di sinilah aku berada. Di pojok kamarku yang berantakan, terduduk diam lemas tak berdaya.
Aku memeluk lututku erat sembari menggerakkan tubuhku dengan harapan itu dapat menghilangkan kegundahanku.
Mengapa !?
Mengapa semua ini terjadi !?
Kesalahan apa yang telah aku perbuat !?
Apakah kesalahku itu begitu besar sampai-sampai aku menjadi seperti ini !?
S u n y i . .
S e n y a p . .
d a n S e p i . .
Hanya itulah yang ku peroleh ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut terus menghantui pikiranku dan menggerogoti jiwaku.
Dan aku pun beranjak menuju teras rumahku didampingin oleh sebatang teman setiaku.
Aku terduduk diam memandangi gelapnya langit tak berbintang dan bulan yang lenyap ditelan oleh awan.
H u f f . .
Aku hanya bisa menghela napasku tanpa menghiraukan abu rokok yang berjatuhan mengotori lantai teras rumahku.
H u f f . .
Aku hanya bisa menghela napasku tanpa henti di kesedihan malam dan kesendirianku.
H u f f . .
Aku hanya bisa menghela napasku memikirkan betapa bodohnya diriku ini dan menyesal atas apa yang telah ku perbuat beberapa saat lalu.
Ya. Benar kawan. Aku menyesal, sangat menyesal. Usahaku selama ini digagalkan oleh nafsu sesaat yang menguasai diriku.
Aku menyesal karena aku tidak tidur lebih cepat malam ini dan lebih memilih untuk menonton acara televisi yang sama sekali tidak menghibur.
Aku menyesal karena membiarkan diriku dikuasai oleh nafsu belaka.
Aku menyesal karena telah menghabiskan satu kotak cokelat Cadbury Dairy Milk seorang diri dan menggagalkan dietku hari ini.
*Huahahahahahaha. Cheers buat kalian yg udah baca note ini dan merasa tertipu. Hihihi :D
Manusia adalah Bukan Manusia
Manusia oh manusia..
Udara yang seharusnya tak terlihat kini memiliki warna hitam kelam yang menjijikkan
Lautan yang indah kini laiknya bak sampah yang dipenuhi oleh air
Hutan yang hijau asri kini telah menjadi coklat seperti halnya kotoran
Senja yang dulu merah merona kini telah tergantikan oleh lautan darah suci dari orang-orang tak berdosa..
Dan Alam pun murka memperlihatkan keperkasaannya di hadapan kita semua
Bencana pun boleh terjadi di seluruh penjuru dunia ini dan masih saja kita bertanya..
Mengapa !?
Apa salahku !?
Bagaimana ini !?
dan seterusnya yang mungkin tidak akan ada habisnya pertanyaan dari makhluk yang bernama Manusia..
Manusia oh manusia..
Tidakkah kau sadari ?
Belum cukupkah peringatan yang telah diberikan?
Bahwa kalian itu adalah MAKHLUK BODOH !!
Bahwa kalian itu adalah MAKHLUK TAK BER-PERASAAN !!
dan bahwa kalian tidak pantas menyandang gelar tertinggi sebagai MAKHLUK yang diagungkan oleh Yang Kuasa, yaitu sebagai MANUSIA !!
Alam yang telah berubah bentuk adalah bukti dari KEBODOHAN wahai para manusia !!
Lautan darah akibat perang adalah bukti dari TAK BER-PERASAAN wahai para manusia !!
dan bukti dari ketidak-pantasan menyandang gelar tertinggi adalah MANUSIA itu sendiri wahai para manusia !!
Selama ini dan dimana pun manusia selalu diartikan sebagai makhluk tertinggi karena memiliki akal yang membuat diriku bangga menjadi seorang manusia..
Tetapi kini,,
Aku KECEWA
Aku SEDIH
Aku MALU
dan Aku merasa HINA
karena telah menjadi seorang manusia yang harus disamakan dengan manusia lain yang bukan manusia..
"I dedicated to our environment. Save the Green !!"
Udara yang seharusnya tak terlihat kini memiliki warna hitam kelam yang menjijikkan
Lautan yang indah kini laiknya bak sampah yang dipenuhi oleh air
Hutan yang hijau asri kini telah menjadi coklat seperti halnya kotoran
Senja yang dulu merah merona kini telah tergantikan oleh lautan darah suci dari orang-orang tak berdosa..
Dan Alam pun murka memperlihatkan keperkasaannya di hadapan kita semua
Bencana pun boleh terjadi di seluruh penjuru dunia ini dan masih saja kita bertanya..
Mengapa !?
Apa salahku !?
Bagaimana ini !?
dan seterusnya yang mungkin tidak akan ada habisnya pertanyaan dari makhluk yang bernama Manusia..
Manusia oh manusia..
Tidakkah kau sadari ?
Belum cukupkah peringatan yang telah diberikan?
Bahwa kalian itu adalah MAKHLUK BODOH !!
Bahwa kalian itu adalah MAKHLUK TAK BER-PERASAAN !!
dan bahwa kalian tidak pantas menyandang gelar tertinggi sebagai MAKHLUK yang diagungkan oleh Yang Kuasa, yaitu sebagai MANUSIA !!
Alam yang telah berubah bentuk adalah bukti dari KEBODOHAN wahai para manusia !!
Lautan darah akibat perang adalah bukti dari TAK BER-PERASAAN wahai para manusia !!
dan bukti dari ketidak-pantasan menyandang gelar tertinggi adalah MANUSIA itu sendiri wahai para manusia !!
Selama ini dan dimana pun manusia selalu diartikan sebagai makhluk tertinggi karena memiliki akal yang membuat diriku bangga menjadi seorang manusia..
Tetapi kini,,
Aku KECEWA
Aku SEDIH
Aku MALU
dan Aku merasa HINA
karena telah menjadi seorang manusia yang harus disamakan dengan manusia lain yang bukan manusia..
"I dedicated to our environment. Save the Green !!"
Langganan:
Postingan (Atom)
