About Me

Foto saya
I play at everybody's mind. I live in everybody's heart.

Jumat, 20 April 2012

SECANGKIR MEMORI DI BIJI KOPI

            Malam itu, tentara hujan kembali turun menggempur bumi. Petir bergemuruh di atas langit membuatku membayangkan keadaan ketika Perang Dunia II masih berlangsung. Tapi, ah, sudahlah, itu tak penting. Ada hal lain yang lebih menyita perhatianku, adalah suatu aroma yang kukenal dengan baik.

Kopi.

Diriku seakan tersihir ketika aroma itu merasuki hidung. Sensasi yang sama seperti ketika Profesor Lockhart meneriakkan mantera Obliviate untuk menghilangkan dan memanipulasi memori Harry dan Ron di jalan menuju Kamar Rahasia tetapi malah terkena manteranya sendiri. Kemudian Harry… Ah, lagi-lagi aku menceritakan hal yang tidak penting, kalian semua pasti sudah tahu cerita itu, bukan?

Maksudku di sini, aroma kopi mampu menimbulkan sensasi yang dapat memanipulasi memori. Atau mungkin lebih tepat jika aku bilang sensasi yang dapat mendatangkan kembali memori yang telah lama terkubur di dalamnya alam bawah sadar.

Memori akan kebahagiaan,

Memori akan kesedihan,

Dalam secangkir kopi…

***

          Sore itu, aku sedang berkencan di kedai kopi tua favoritku di daerah Dago Atas. Sebuah café bergaya naturalis dengan meja dan bangku kayu serta pemandangan Bandung di balik kusen dengan ukiran khas Jepara berhiaskan ranting pohon tua di belakangnya. Kencan manis bersama laptop dan setumpuk kertas data skripsi yang harus kuolah.

Hahaha! Betapa menyedihkan…

Sementara teman seperjuanganku telah melanjutkan hidupnya dengan menikah, melanjutkan pendidikan ke jenjang Master bahkan Doktor, meniti karier di perusahaan besar, atau mulai membuka bisnis baru, aku masih saja bergelut dengan tugas akhir. Yah, beginilah nasib mahasiswa salah jurusan.

Motivasi rendah, mata kuliahnya sulit dimengerti, dosen terasa galak dan kaku.

Dan seterusnya, dan seterusnya…

Meskipun bisnis kecilku berjalan lancar dan terus berkembang, tetapi orang tuaku terus mendesak agar aku cepat lulus dan bekerja di perusahaan Ayahku. Sementara aku punya impian lain. Dan kakiku terus melangkah menuju impian itu hingga menjadi kenyataan.

“Selamat siang.. Pesanan yang biasa, Mas?” Rani bertanya padaku.

Ia adalah seorang pramusaji di tempat ini. Parasnya cukup manis. Matanya tajam dan bercahaya, pipinya bulat seperti bakpau. Tapi, namanya juga manusia, selalu mencari kesempurnaan dalam segala aspek kehidupannya. Jika saja perawakannya tidak seperti kucing hamil dikombinasikan dengan kuda nil yang sedang berkubang, dengan lipatan tubuh yang jumlahnya lebih dari manusia normal. Belum lagi rambutnya yang tajam dan berantakan seperti giginya, mungkin dia sudah aku ajak kencan.

“Mas? Mas Drian? Mau pesan apa?”

“Ah, iya. Pesan yang biasa aja, Ran. One Dreamcatcher for this Mr. Lonely.” Lamunanku  terpecah oleh pertanyaannya.

Dreamcatcher. Minuman kesukaanku di tempat ini. Bahkan sebelum minuman itu datang, aku dapat merasakan sensasinya di mulutku. Racikan biji kopi robusta dicampur dengan sirup hazelnut dengan gambar daun di permukaannya. Entah mengapa minuman ini selalu berhasil mengaktifkan hormon endorfin dan memunculkan mood positifku.

“Oke, tunggu sebentar ya. Saya ambilkan dulu pesanannya.” Ucap Rani sembari meninggalkanku. Dapat kudengar ia berteriak kepada Barista yang tak jauh dari meja tempatku berada.

“ONE DREAMCATCHER, PLEASE! GAK PAKE LAMA!” Teriak Rani.

“Buat jadi dua, ya, Mbak,” sambar seorang wanita kepada Rani, “Saya pesan Dreamcatcher juga, tapi dibungkus.”

“Oke, Mbak. Tunggu sebentar ya,” tanggap Rani dilanjutkan dengan teriakan kedua kepada Barista.

Wanita itu kemudian menatapku. Lalu melangkah mendekatiku. Aku langsung berlagak cuek kembali menatap layar laptopku yang masih kosong.

“Hai, boleh ikut duduk di sini?” Tanyanya. “Aku sedang menunggu pesananku. Atau mungkin lebih tepat jika aku bilang pesanan kita.” Ia berdiri di sebelah kursiku, menungguku mempersilakannya duduk.

Naluri lelaki dalam diriku segera mengirimkan sinyal ke otak, memerintahkan mataku untuk mengamatinya dengan cepat, seperti anti-virus di komputer yang melakukan scanning terhadap flashdrive yang baru dicolokkan.

Tubuh mungil, tapi montok. Lekukannya terbentuk jelas di balik setelan skinny jeans berwarna biru tua dan kaos putih kebesaran yang memamerkan bahunya. Ditambah gelang-gelang kayu di pergelangan tangan kanannya, jam tangan casio emas di tangan kirinya, dan beberapa cincin unik berbentuk burung hantu dan storm trooper dari toko Widely Project di jarinya yang mungil. Tak lupa kalung dreamcatcher tergantung di lehernya. Kini aku tahu kenapa dia memesan minuman yang sama denganku.

Parasnya pun sangat manis. Deretan gigi yang teratur dan bibir yang tipis membuat senyumannya terlihat sangat indah. Rambutnya yang pendek menggelitik bahu dan lehernya ketika angin bertiup. Bola mata yang sangat bulat dan jernih melempar tatapan bersahabat dari balik bulu matanya yang lentik. Cantik. Hatiku berbicara.

“Si... Silakan, Mbak, Dreamcatcher ...” Aku tergagap. Entah mengapa. Mungkin karena ini kali pertama ada wanita cantik menghampiriku sejak sebulan lamanya aku bermeditasi di tempat ini setiap hari. 

“Hahaha.. Namaku bukan Dreamcatcher . Aku Bunna Aisha. Kamu boleh panggil aku Bunna.”

“Ha.. Halo, Bunna. Aku Drian.” Lidahku masih gemetaran. Untung saja tanganku masih bisa bergerak normal ketika dia menyodorkan tangannya untuk berkenalan.

“Namamu, Bunna. Apakah ini seperti yang aku pikirkan?” Tanyaku.

“Kalau kamu berpikir tentang asal muasal Kopi, ya, kamu benar.” Jawabnya. “Kau tahu, kopi itu pertama kali ditanam di Kerajaan Kaffa di Ethiopia?” Lanjutnya.

“Ya, Aku pernah dengar kalau biji kopi pertama ditanam di sana dan disebut bunn atau bunna. Kemudian kopi mulai tersebar di Eropa pada masa Kekaisaran Turki Ottoman yang hendak menyerang Wina pada tahun 1529. Hanya saja mereka mengalami kekalahan, dan orang-orang Wina menemukan perbekalan kopi mereka dan mulai menyebarkannya,” Kataku.

“Wow! Aku terkejut kamu tahu sebanyak itu. Kebanyakan orang hanya mengenal kopi itu dari Italia.” Ucap Bunna terkesima.

“Hehehe.. Aku.. Cukup banyak membaca..” Aku tersipu malu.

“Ayahku dulu seorang Barista. Nama yang diberikannya kepadaku ini didorong oleh rasa cintanya terhadap kopi. Dan sepertinya bukan hanya nama yang diwariskannya, tetapi juga rasa cintanya terhadap kopi. Aku sangat suka kopi.” Bunna menjelaskan.

Aku tersenyum mendengarnya. Menyimpan laptopku di atas meja dalam keadaan tertutup. Percakapan dengannya jauh lebih menarik ketimbang menyelesaikan penelitianku. Kami pun melanjutkan perbincangan.

“DUA DREAMCATCHER SIAP DIHIDANGKAN!” Rani mengejutkanku dari samping.

“WILL YOU PLEASE STOP YELLING, HIPPO GIRL!!”

Ingin rasanya aku berteriak seperti itu. Jika bukan karena Bunna di depanku dan aroma kopi pesananku yang merasuki hidungku, aku sudah melakukannya.

Alih-alih aku menjawab dengan dingin, “Terima kasih, Ran. Simpan saja di atas meja.”

Rani meletakkan pesananku dan Bunna di atas meja. Lalu bergegas pergi sambil mencibir. Agaknya dia sedikit cemburu melihat keceriaanku bersama Bunna.

“Pesananku sudah datang, Dri. Aku pergi dulu ya..” Perkataan Bunna mengejutkanku untuk kedua kalinya setelah raungan Rani di sebelahku.

“Kamu sudah mau pergi lagi?”

“Aku ada janji bimbingan dengan dosen sore ini..” Jawabnya.

“Can’t you just finish your coffee first and have another chit-chat with me?” Aku sedikit bersikeras memintanya untuk tetap tinggal.

Bunna mengambil selembar tissue, lalu menulis sesuatu di atasnya. “Maaf ya.. Aku sudah terlambat.. Tapi kamu boleh menghubungiku nanti..” Ia memberikan tissue yang bertuliskan nomor teleponnya kepadaku.

“See you later, Mr. Dreamcatcher . It was fun talking with you..” Bunna tersenyum seraya berjalan ke luar. Aku hanya bisa membalas senyumannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Seakan mengerti apa yang kurasakan, lagu “Falling in Love at The Coffee Shop” dari Landon Pigg mengalun di udara.

“I think that possibly, maybe I’m falling for you
Yes there’s a chance that I’ve fallen quite hard over you.
I’ve seen the paths that your eyes wander down
I want to come too…

I think that possibly, maybe I’m falling for you
Yes there’s a chance that I’ve fallen quite hard over you.
I’ve seen the waters that make your eyes shine
now I’m shining too…”

***

        Hari ini sedikit berbeda dari biasanya. Aku tidak pergi ke kedai kopi langgananku seperti biasanya. Aku memberanikan diri untuk menelepon Bunna sehari setelah pertemuanku dengannya. Bukan percakapan yang panjang. Aku hanya mengajaknya pergi kencan.

         Jika kamu bertanya-tanya tentang bagaimana kelanjutan skripsiku, hilangkan itu dari pikiran kamu. Tentu saja aku meninggalkan laptop dan tumpukan berkas demi pergi dengan Bunna. Hahaha!

Berbeda dengan kencan pertama yang biasanya orang lain lakukan. Pergi menonton di bioskop lalu makan malam? Bah. Membosankan. Kami melewatkan seharian untuk pergi ke museum-museum di Bandung dan mencari jajanan kuno di sekolahan. Kue Ape. Kue Cubit setengah matang. Bandros. Arumanis Jerami atau yang biasa disebut Rambut Nenek. Sedikit nostalgia dengan masa kecil dan diakhiri dengan kunjungan ke rumah Bunna.

“Masuk, Dri.” Ajak Bunna.

“Kamu.. Tinggal sendirian di rumah sebesar ini?” Tanyaku sedikit canggung.

           Bagaimana tidak. Rumahnya adalah sebuah bangunan tua dengan sentuhan arsitektur Belanda yang sudah sedikit dimodifikasi. Paling tidak ada sekitar 8 kamar utama dalam rumah ini. Yang sudah pasti tidak ada yang menempatinya, pikirku. Hanya ada aku dan dia di dalam rumah itu. Aku harus berusaha keras untuk menolak bisikan setan di telinga kiriku. Untung saja malaikat di sebelah kananku lebih kuat.

“Yup. Sebetulnya dulu rumah ini seperti kebun binatang, selalu berisik. Tapi sejak Ayah dan Ibuku meninggal karena kecelakaan mobil 7 tahun lalu, rumah ini seakan kehilangan pemiliknya. Kehilangan jiwanya.” Cerita Bunna. Terdengar nada sedih ketika dia bercerita.

Aku terdiam. Bingung untuk memberikan reaksi yang tepat.

“Kemudian, satu persatu anggota keluarga ini mulai melanjutkan hidup setiap tahunnya. 3 kakakku yang paling besar tinggal di luar negeri. 3 lainnya tinggal di luar kota bersama keluarganya masing-masing. “Sekarang, tinggal aku si bungsu, sendirian di rumah ini.” Lanjutnya.

Dapat kulihat sekilas matanya berlinang air mata. Mungkin ini penyebab bola matanya begitu cerah dan bercahaya. Air mata begitu seringnya membasahi wanita kesepian ini. Aku kembali terdiam. Semakin bingung untuk menanggapi. Aku hanya tersenyum.

Seakan menangkap sinyal kebingunganku, Bunna menarik tanganku. “Hei! Let me show you something!”

“Apa?” Tanyaku.

“Udah, ikut dulu aja, yuk!” Paksa Bunna. Kami pun melangkah ke dalam dapur.

“Wow! Ini semua barang asli? Gila.” Pekikku.

“Hahaha. Aku sudah mengira reaksimu akan seperti itu.” Canda Bunna.

      Deretan coffee-maker tua bertengger di atas rak. Mulai dari mesin espresso tahun 1933 penemuan Dr. Ernest Illy hingga Jasper Morrisson’s Coffee-Maker tahun 2004 tersimpan rapi. Dan yang lebih mengejutkan, semuanya masih berfungsi dengan baik.

“Aku buatkan kamu kopi, ya?” Tanya Bunna.

“Boleh. Jangan pake racun ya. Awas kalau rasanya nggak enak. Hehehe..” Candaku.

        Bunna tertawa. Lalu dia memperlihatkan kemahirannya membuat kopi. Mulai dari menciumi wangi biji kopi robusta, memasukkannya ke dalam mesin, hingga meraciknya sirup dan  sesuatu yang sepertinya menjadi ramuan rahasianya.

“One Nice Dream is ready!” Teriak Bunna bersemangat.

Nice Dream? Kok namanya mirip pesananku di kedai kopi kita?” Protesku.

“Bawel ah. Nama boleh mirip, tapi rasanya jauh beda. Soalnya ini kopi buatanku.” Ucap Bunna sembari meletakkan dua cangkir kopi di atas meja.

        Benar saja. Dari aromanya saja kopi itu terasa nikmat. Asap putih yang mengepul dari balik permukaannya menggelitik bulu hidungku. Sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Seolah-olah aku diajak terbang ke angkasa ketika aku memejamkan mata dan menghirup aromanya.

“Kopi ini… Kopi terbaik yang pernah kuminum!” Teriakku. “Bunna! Kamu harus membuka kedai kopi sendiri! Kopi ini pasti menjadi minuman kesukaan semua orang! The Dreamcatcher - one sip for one dream!” Lanjutku bersemangat.

“Hehehe.. Makasih, ya.. Tapi aku tak berminat menjadi Barista. Mungkin suatu saat aku akan menjual resep kopi ini.  Aku lebih suka menikmati kopi buatan orang lain atau membuatkan kopi untuk seseorang yang spesial di kehidupanku.” Ucap Bunna sambil menyentuh tanganku dan tersenyum manja.

         Mata kami saling bertemu, menatap dalam seakan sedang saling menelusuri jiwa. Jemari kami bersilangan. Jarak antara aku dan dia semakin hilang. Kali ini bukan aroma kopi yang merasuk ke hidungku, melainkan wangi tubuh seorang wanita cantik di hadapanku. Kami berpelukan. Dapat kurasakan hembusan napasnya di wajahku dan darah mengalir deras hingga terdengar detak jantungku sendiri. Tak lama bibir kami bersentuhan. Kebahagiaan yang kurasakan berjuta kali lipat lebih besar dari kebahagiaan menghirup aroma kopi kesukaanku. Kami berciuman.

***

“BLAR!!!”

Suara petir kembali memecah keheningan. Kaca jendela mengalunkan nada tak teratur suara ketukan air hujan. Terdengar pula derap langkah ringan menaiki anak tangga di luar kamar. Tak lama sayup suara wanita cantik memanggil dari balik pintu.

“Dri, masih beresin kerjaan, ya?”

“Hei. Kamu belum tidur? Aku sebentar lagi beres kok.” Jawabku.

“Aku barusan bikin kopi kesukaan kamu. Robusta dengan sirup hazelnut dan ramuan rahasia. Nice Dream for my Mr. Nice Dream!”

“Wah.. Makasiiiih.. Gak salah deh aku nikahin kamu, Nad..”

“Aku tidur duluan, ya. Titip anak-anak, ya, Dri.” Ucapnya.

“Sip. Nanti aku nyusul. Tanggung nih dikit lagi beres. Have a nice dream, Nadira.” Balasku.

“Nice Dream-nya kan udah kamu minum. Aku mau sweet dream aja deh. Hehe.” Candanya.

“Hahaha... Dasar… Garing luuu! Sini aku cium dulu.” Nadira pun meninggalkan ruang kerjaku setelah aku mencium keningnya.

Nadira. Wanita yang sekarang menjadi istriku. Bukan Rani. Bukan pula Bunna. 

Rindu. Aku rindu Bunna. 

Hanya satu hal yang dapat kulakukan untuk menebus rasa rinduku, dengan menikmati resep kopi buatannya.

Selagi menyeruput kopiku, iTunes player di komputerku memutar lagu Nice Dream dari Radiohead.

“They love me like I was a brother
They protect me, listen to me
They dug me my very own garden
Gave me sunshine, made me happy

Nice dream, nice dream, nice dream..

I call up my friend, the good angel
But she's out with her ansaphone
She says she would love to come help but
The sea would electrocute us all

Nice dream, nice dream, nice dream..

If you think that you're strong enough
If you think you belong enough
If you think that you're strong enough
If you think you belong enough

Nice dream, nice dream, nice dream..”

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar